Arsip Tag: Alkohol

Kimiasutra Kadar Alkohol dan Maboknya Jack Sparrow


Rupanya kisah Nazarudin diatas belum happy ending beneran. Masalahnya, tadinya Nazarudin berharap bisa memboyong Sang Putri Etanol saja ke istananya. Ternyata, namanya orang Asia, yang namanya pernikahan itu kan antara keluarga dan keluarga, bukan antara 2 individu saja. Ikutlah juga paman, sepupu, keponakan, dan bahkan pembantu rumah tangga favorit Putri Etanol semuanya ke istana Nazarudin. Akhirnya Nazarudin jadi pusing: kalo begini mending jomblo aja yah! Wkwkwk¡­.

Jadi, destilasi tidak bisa memisahkan 100% akurat, karena ada zat-zat yang nyangkut di titik didih yang sama. Inilah yang menjelaskan mengapa bahan awal bisa menentukan rasa minuman walaupun sudah didestilasi: single malt whisky misalnya, yak arena bahan kimia yang nyangkutnya ini berbeda sehingga rasanya berbeda. Kadar alkohol yang ditulis pada botol adalah yang disebut ABV, artinya Alcohol By Volume, atau bahasa kimianya v/v. Jadi, ngitungnya volume etanol dibagi total volume. Jadi, dari 100 ml gelas wine, dengan alkohol 11.5%, berarti ada 11.5 ml etanol dan 88.5 ml air. Dalam proses fermentasi alamiah, ragi biasanya mati keracunan kalau kadar alkoholnya mencapai 18%, jadi inilah kadar maksimum untuk minuman beralkohol yang dibuat dengan proses fermentasi alamiah, seperti bir, wine, dan sake (catatan: untuk sake ada ragi supermabok yang bisa menghasilkan kadar 25% alkohol).

Lalu, bagaimana dengan vodka, whisky, dan sebagainya? Nah, proses destilasi diatas digunakan untuk semua minuman dengan kadar alkohol diatas 20%. Namun, alkohol 100% tidak bisa dihasilkan dari destilasi, maksimum 95.6%, karena dalam kondisi ini air dan alkohol membentuk azeotrop, pasangan yang tak terpisahkan, walaupun dimasak berapa kali pun. Kadar 40% untuk vodka misalnya, diperoleh dari kombinasi antara filtrasi (penggunaan filter), destilasi, dan mencampur dengan air.

Nah, bagaimana mengukur kadar alkohol yang masuk dalam tubuh? Dengan total volumenya tentu saja, bukan kadarnya. Jadi, secara teori, 2 liter bir (kadar 4%) mengandung 80 ml etanol, sama dengan 200 ml Vodka (kadar 40%). Tapi, saya sendiri tidak merasakan efek itu, karena penyerapan alkohol dalam tubuh bergantung juga dari zat-zat lain yang terkandung dalam minuman tersebut. Buat saya, misalnya, minum segelas bir dan segelas wine mabuknya sama ¨C jadi mending wine duonks, kan lebih banyak alkoholnya? Hehehe. Pengalaman pribadi juga mengajarkan bahwa minum alkohol campur-campur efeknya lebih nendang daripada cuma satu jenis.

Lalu, pertanyaannya: kenapa sih orang minum alkohol? Kalau dilihat kadar konsumsi alkohol di dunia (ada di Wikipedia), alasannya cukup jelas. Lihatlah bahwa negara semakin dekat ke khatulistiwa (tropis), semakin sedikit konsumsi alkoholnya, dan semakin jauh ke Utara/Selatan, semakin banyak. Alkohol sebenarnya berhubungan dengan ketersediaan air di alam. Penjelasan yang sama juga berlaku untuk pertanyaan: mengapa pelaut seperti Jack Sparrow selalu jago mabok? Masalahnya sebenarnya adalah pengawetan air.

Air tawar itu gampang busuk lho. Nggak percaya? Coba biarkan segalon air dibawah sinar matahari dengan tutup terbuka. Alhasil, akan jadi hijau lumut dalam beberapa hari. Ini sudah pake plastic lho. Coba pake ember kayu, makin cepat rusaknya. Ini karena bakteri, alga, serangga, mudah sekali tumbuh di air sehingga air menjadi tercemar, diminum malah diare. Disinilah peran alkohol! Karena mengandung >20% alkohol, tidak ada bakteri atau serangga yang bisa hidup di sebotol Rhum. Padahal, minum 100 ml rum sama dengan minum 80 ml air juga kan? Jadi, inilah cara terbaik mengawetkan air dalam perjalanan laut misalnya, atau di negara-negara yang sulit air, atau di negara-negara yang memiliki musim dingin keras dimana air membeku berbulan-bulan. Maboknya? Yaa nikmati sajaaa hehehe.

Dari kebutuhan inilah alkohol menjadi budaya dan sampai sekarang masih ada, dengan bentuk macam-macam pula. Rasa unik dan nikmat dari setiap minuman memang berbeda, tergantung dari komposisi kimianya, yang ditentukan oleh proses pembuatannya: whisky, wine, bir, atau sake. Tergantung juga dari minumnya dengan siapa, dan apa yang dilihat pada waktu minum: kalau yang dilihat Yohan Handoyo, sudah berbotol-botol wine kok ya masih sepet juga mata ini, hehehe. Demikianlah kisah singkat alkohol, yuk silaken kalo ada pertanyaan lagi kita bahas bersama¡­

Cheers,

Harnaz

Iklan

Kimiasutra Pangeran Nazarudin dan Putri Etanol dari Kerajaan Alhok


Belakangan ini nama saya memang sering didiskreditkan oleh berbagai media massa di Indonesia, karena mirip dengan nama seorang buronan di Singapura. Bahkan ada lelucon baru di twitter yang menyakitkan hati: Nama saya Nazarudin: boleh dipanggil Nazar, Udin, Rudin, atau Didin, asal jangan dipanggil KPK. Hayyah! Kok jadi begini yah?

Nah, rupanya milis JS juga sedang dilanda berbagai isu mengenai alkohol. Jadi, saya terpanggil untuk cerita lagi, dan berhubung kali ini nama Nazarudin sedang jelek beritanya, saya mau sedikit menghibur hati dengan mengingatkan bahwa Nazarudin adalah nama seorang perdana mentri jaman dulu di India yang pintar sekali, mirip Abu Nawas. Kali ini, judul kisahnya adalah Pangeran Nazarudin dan Kerajaan Alkohol¡­.

Alkisah, ada sebuah kerajaan namanya Kerajaan Alkohol. Semua anggota kerajaan ini, dari Raja sampai rakyatnya, punya ciri khas yakni namanya semua berakhiran ¨Col. Misalnya: ada toluol, etanol, butandiol, poliol, dan lain-lain. Ciri-cirinya, terdiri dari rantai karbon dengan gugus hidroksil (-OH) pada salah satu gugusnya. Jadi, kalau sebuah senyawa ingin menjadi warga negara Kerajaan Alkohol, maka harus ditempeli gugus hidroksil dulu, baru bisa ganti nama (pakai Surat Keterangan Ganti Nama dan SBKKA, Surat Bukti Kewarganegaraan Kerajaan Alkohol), baru bisa resmi menjadi warga negara Kerajaan Alkohol. Misalnya marganya Me, dengan nama Ta Na (CH4), ditambah hidroksil jadi Metanol (CH3-OH). Marga Pro, nama Pa Na (CH3-CH2-CH3), jadi Propanol (CH3-CH2-CH2-OH), dan seterusnya¡­

Tapi, orang sering salah menyebut Alkohol. Ini tak lain adalah karena putri kedua dari Sang Raja Alkohol, yang namanya Putri Etanol (CH3-CH2-OH). Nah, sang putri ini sangat bahenol, cantik menawan, bisa bikin mabuk kepayang dan lupa daratan. Jadi kalau orang menyebut ¡®Alkohol¡¯, bisa juga mengacu pada Sang Putri yang bahenol ini. Syahdan, Pangeran Nazarudin dari Negri Jomblo, suatu hari datang ke Istana Raja Alkohol untuk melamar Sang Putri Etanol ini. Sang Raja tidak mau memberikan putrinya yang paling cantik pada sembarangan orang, dan memutuskan untuk menguji Nazarudin. ¡°Semua putriku sudah kutaruh dalam Menara Destilasi di Istanaku!¡± kata Sang Raja. ¡°Kau harus bisa memancing mereka keluar dan memilih salah satu untuk dijadikan istri. Kau punya kesempatan sekali saja untuk memilih!¡± katanya. Wah, bingung juga Nazarudin. Padahal, ia belum pernah bertemu Sang Putri Etanol, apalagi melihat fotonya. Bagaimana caranya?

Satu hal yang ia tahu dari Institut Gajah tempatnya menuntut ilmu, bahwa ukuran tubuh putri-putri alkohol ini berurutan. Metanol (1 C) paling kecil, Etanol (2 C) lebih tinggi, Propanol (3 C) lebih tinggi lagi, dan sebagainya. Iapun kemudian menggunakan teknik yang sedikit kejam: ia bakar ranting kayu dan mengasapi Menara Destilasi sampai ruangannya penuh asap. Mula-mula, Putri Metanol, yang badannya paling kecil, pasti tidak tahan dan loncat duluan. Hop! Lalu, urutan kedua, pastilah Putri Etanol yang dia cari-cari! Ketiga pasti Putri Propanol, demikian seterusnya sesuai tinggi dan berat badannya. Akhirnya, Pangeran Nazarudin berhasil menangkap Putri Etanol dan meminangnya sebagai istri¡­ lalu berganti nama jadi¡­ Nazarudol! Hayyah nggak banget deh!

Begitulah kira-kira ilustrasi dari sebuah proses yang namanya destilasi, yang menjadi kunci dari permasalahan alkohol ini. Kisah diatas nyaris true story, karena antara alkohol satu dengan yang lainnya: methanol, etanol, propanol, butanol ¨C rasa, bentuk, dan warnanya mirip2 semua. Hanya proses destilasi-lah yang bisa membedakan berbagai jenis alkohol ini berdasarkan beratnya. Apa jadinya kalau Pangeran Nazarudin salah pilih£¿

Putri Metanol, memang cantik dan bahenol juga tapi sangat kejam. Rumusnya CH3-OH, kalau dioksidasi menjadi formaldehid (BTW, yang membahas ini menulis Formal De Hit¡­ lutunaah kayak nama Caf¨¦, hehehe) kemudian menjadi asam format (HCO2H). Yang bahaya sebenarnya adalah asam format ini, karena akan menghalangi oksigen masuk ke sel sehingga mencekik sel-sel kita. Metanol juga merusak sel optik, yang paling rentan terhadap suplai oksigen, sehingga membuat kehilangan penglihatan. Inilah yang disebut alkohol kayu, karena jaman dulu methanol diambil dari proses penghancuran selulosa (kayu) dengan cara dimasak.

Urutan keluarnya putri dalam cerita diatas juga benar adanya. Dalam proses pembuatan minuman beralkohol, biasanya dimulai dengan fermentasi, dimana ragi mengubah glukosa menjadi CO2 dan alkohol (baca: Peuyeum dan Pirupat). Tapi, proses alam ini menghasilkan bermacam-macam alkohol yang bercampur jadi satu. Lalu, dilakukan destilasi, dengan memanaskan adonan awal. Yang berat molekulnya paling ringan akan mendidih duluan, dan uapnya ditampung dan diembunkan kembali. Yang pertama adalah metanol pada suhu 65oC (ini disebut ¡®head¡¯), kemudian ethanol pada 78oC, lalu isopropil alkohol pada 82.5oC (ini disebut ¡®tail¡¯), dan seterusnya¡­

Mengapa sering terjadi keracunan pada produksi alkohol rumahan? Sederhana saja, karena pembuatnya kurang paham ilmu kimia. Padahal, mudah saja: tinggal pasang thermometer pada panci destilasi. Yang keluar pertama, pada suhu 65oC, jangan diminum! Yang keluar kedua, suhu 78oC, baru diambil. Itupun harus didestilasi lagi, untuk memurnikan alkoholnya, terus dan terus lagi sampai kadarnya stabil. Baru dicampur dengan air atau diberi rasa tertentu. Baru bisa diminum! Kalau tetesan pertama langsung diminum, rasanya sama ¨C tapi, bisa buta!

Cheers

Harnaz