Arsip Kategori: Catatan Perjalanan

Beberapa tulisan mengenai Perjalanan saya ke beberapa tempat yang mungkin layak anda kunjungi

[review] Kereta Api Kalimaya (Merak – Tanah Abang ) Sebuah Reportase dari Member Jalansutra


KA Kalimaya (Merak-Tn.Abang) Gbr. Flickr.com
KA Kalimaya (Merak-Tn.Abang) Gbr. Flickr.com

Dari kemarin sore, saya dan rekan2 memutar otak bagaimana caranya pulang ke Tangerang, Jakarta, Bogor dan sekitarnya. Ada yang mengusulkan lewat jalan lama Serang-Jakarta, ada yang mengusulkan lewat Pontang – Banten Lama dan keluar di Mauk( Tangerang), ada juga yang mengusulkan lewat Rangkasbitung-Jasinga-

Leuwiliang-Bogor, dan ada yang mengusulkan naik kereta dari stasiun Merak.
Banyak Info yang saya terima pagi ini dari beberapa situs berita dan dari tweeter, dan semuanya bilang jalan lama Serang-Jakarta stuck, ga gerak. Bahkan ada yang dari jam 6 sore kemarin dari Jakarta mau ke Rangkas via Balaraja, masih stuck di jalan sampai pukul 6.30 pagi ini,,, wah, suram nih kayaknya, jangan2 saya bakal sampai Bogor besok siang… Udah gitu, dari peta juga terlihat bahwa jalur itu melewati sungai Ciujung juga,,, wah siapa yang mau jamin nih jalan bebas dari banjir,,,
Akhirnya saya memilih untuk naik kereta saja. Dengan alternatif kedua, kalau2 ga dapet kereta dari Merak, saya berniat untuk sambung menyambung lewat jalur Rangkas. Lanjutkan membaca [review] Kereta Api Kalimaya (Merak – Tanah Abang ) Sebuah Reportase dari Member Jalansutra

Ironi Museum Nasional


Museum Nasional
Museum Nasional

Kenapa saya mengambil judul diatas…? Yup karena keprihatinan saya melihat kondisi Museum Nasional. Berawal dari kunjungan saya ke Museum Nasional, dengan niat ingin melihat koleksi dan uniknya Gedung Museum Nasional yang merupakan peninggalan jaman Belanda. Sebelum berkunjung ke museum Nasional saya sempatkan untuk menghubungi Museum nasional via telepon, dan sobat saya menghubungi via email yang alamatnya tercantum dalam website museum Nasional hanya untuk menanyakan apakah ada guide dan berapa tarifnya. Hal pertama yang menjengkelkan adalah bahwa no telepon yang ada di website nyambung tapi tidak pernah ada yang angkat, lalu teman saya pun yang menghubungi via email tidak ada balasan sama sekali. Akhirnya tanya sana tanya sini akhirnya bisa menghubungi Museum nasional, ternyata no telepon dan alamat email di website sudah tidak valid lagi, menurut pihak museum nasional hal ini sudah diberitahukan ke pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, namun sampai dengan saat ini tidak pernah ada realisasinya. Salah satu contoh kerja birokrasi yang sangat amat lambat. Hal yang aneh lagi saat saya menanyakan perihal pemesanan jasa guide, jawabannya adalah bisa langsung ditempat, bapak tinggal datang saja… heh…? saya sempat terkaget-kaget menerima jawaban tersebut, saya bahkan sampai mengulang lagi pertanyaan tersebut, namun rupanya jawabannya sama, soal tarif pun mereka tidak ada tarif yang jelas… ironis…….. Lanjutkan membaca Ironi Museum Nasional

Video Tour de Galunggung


Sebenarnya udah lama pengen Upload video perjalanan ke Gunung Galunggung ceritanya kayak disini,  tapi baru sempet sekarang, thanks to bodat yang sudah ngedit videonya dan upload di yutub….

Bagian Pertama

Bagian Kedua

Bagian Ketiga

perjalanan yang cukup menarik karena dari awal perjalanan sampai dengan akhir perjalanan selalu basah……

Salam

AX

Penginapan di Ujung Genteng – Sukabumi


Bagi para wisatawan yang doyan jalan terutama di daerah Ujung genteng, saya lampirkan penginapan yang bisa di sewa untuk menginap sekaligus bisa memesan makan di sana. beberapa losmen menyediakan tempat yang menurut saya cukup representative namun tidak terlalu mewah. selain alamat disini anda juga bisa menyewa rumah penduduk jika penginapan tersebut sudah penuh. Lanjutkan membaca Penginapan di Ujung Genteng – Sukabumi

Catatan Jejak-jejak Kartini di Jepara


Memperingati Hari Kartini, tidak bisa terlepas dari kota Jepara, tempat pelopor feminisme Indonesia ini lahir. Buat saya, `suasana Kartini’ juga menjadi penanda wilayah Jawa Tengah yang jarang kita dengar, yakni pesisir Utara Jateng ke arah Timur. Berarti dari Semarang sampai ke perbatasan Jawa Timur sebelum Tuban.

Sebenarnya, Raden Adjeng Kartini tidak dilahirkan di kota Jepara, melainkan di sebuah kota kecil bernama Mayong. Kota ini termasuk suburb dari Jepara. Uniknya, saya menemukan nama kota ini justru di resort merah Losari Coffee Plantation. Resort ini terletak tidak jauh dari Eva Coffee House, tempat singgah favorit bagi yang sedang berkendara dari Semarang ke Solo atau sebaliknya. Eva Coffee House punya andalan masakan yang konon tinggal satu-satunya di Indonesia: gudeg manggar, atau gudeg dari bunga kelapa. Tempat ini juga terkenal dengan sirop kopinya, juga barang yang sudah langka di Indonesia.
Resort Losari Coffee Plantation boleh diacungi jempol karena ketekunannya mempertahankan `aroma’ perkebunan kopi tempo doeloe di Jawa Tengah (walaupun mahalnya gak ketulungan).

Disana, di jalan pintu masuknya berjajar pohon Kapok (kapuk) Jawa, yang masing-masing diberi nomor dan dirawat apik serta dimonitor perkembangannya. Di kebun-kebunnya ada pepohonan Jawa kuno seperti kecombrang dengan bunganya yang merah muda merona (wadoh, udah merah, muda, merona lagi! Hehe), serta di dalamnya ada koleksi pohon-pohon bamboo kuno seperti bamboo betung dan jenis bamboo lainnya yang diameter batangnya mencapai paha orang dewasa.

Yang unik disini dan berhubungan dengan Kartini adalah lobby atau reception-nya. Kalau resort-resort lainnya seperti Amanjiwo di dekat Borobudur menyajikan ruang penerima (reception area) yang serba megah dan mewah, di Losari ini justru ruang penerimanya sangat kecil, sempit, dengan dinding kayu bersusun mirip dinding kayu rumah-rumah di film koboi. Interiornya pun sederhana, dengan kayu-kayu yang tebal namun sudah lapuk karena usia. Di samping ini ada tulisan besar `Mayong’ beserta angka ketinggian kota ini.

Rupanya, gedung stasiun ini dulunya adalah stasiun kereta api kota Mayong yang diangkut semuanya kesini. Filosofinya adalah, seperti di cerita Harry Potter, stasiun kereta api jaman dulu adalah gerbang menuju tempat baru. Sebelum masuk ke sebuah tempat baru, pasti harus lewat stasiun dulu. Inilah harapan resainer Losari, agar `Mayong Reception’ ini menjadi gerbang ke dunia Jawa kuno di dalam kawasan resor ini. Boleh jadi, stasiun ini adalah saksi bisu RA Kartini, lantainya adalah lantai yang sama yang pernah dilangkahinya, atau dindingnya pernah disandarinya ketika ia menunggu ayahnya pulang.

Kalau ke Jepara, daerah yang tidak boleh dilewatkan adalah Tahunan. Daerah ini kira-kira 45 menit keluar kota, dan merupakan pusat industry mebel kayu di Jepara. Saya dua kali kesini, pertama dengan Novel cs dan kedua dengan keluarga. Wah mantab tenan belanja mebel disini. Uang yang kalau di Jakarta dapetnya cuma pik pik Olympic, disini bisa dapat kayu jati (entah muda atau apa, at least lebih baik dari triplek hehe). Ada lemari, ada kursi, dua kali saya kesana, dua-dua kalinya saya belanja, yang pertama satu set bangku panjang dan yang kedua satu set meja kopi. Dikirim ke Jakarta? Gak masalah! Kalau gak salah ada biaya dibawah Rp 100.000,- per buah untuk pengirimannya. Cara membungkusnya khas, dengan kertas kardus corrugated dan diikat raffia hitam, tanpa kotak. Sampainya lumayan cepat, bagus, dan murah pula!

Nah, `jejak Kartini’ di Tahunan bisa kita lihat di sebuah desain meja kopi yang disebut `kursi kartini’. Saya sendiri nggak tahu kenapa namanya `kursi kartini’. Bentuknya sebenarnya mirip desain meja kopi kuno jaman Belanda, dimana sandarannya melengkung, jadi satu dengan sandaran tangan. Tingginya hanya setengah punggung kalau diduduki, dengan kaki yang pendek dan dasar yang lebar. Secara umum bentuknya seperti sudut bersisi tiga dari sebuah kubus. Biasanya dijual sepasang dengan sebuah meja kecil, kira-kira setinggi 50 cm. Konon, desain ini diambil dari desain meja kopi milik Kartini yang ada di Museum Kartini di Jepara. Sayang, saya belum pernah mampir ke museum ini. Dan, Tahunan bukan hanya terkenal dengan mebelnya – tapi juga terkenal duriannya! Konon, di daerah pesisir yang panas ini durian tumbuh subur dan dulu pernah menjadi primadona kawasan ini. Duren paling banyak ditemukan di Pasar Tahunan yang ada di sebelah kanan jalan menuju pusat mebel. Siapa tahu, dulu Kartini pernah duduk di dingklik di pasar ini, sambil nyelamotin biji durian Jepara!

Yang terakhir, selain patung Kartini di pusat kota Jepara, adalah Pantai Kartini. Kalau yang pernah ke Karimunjawa lewat Jepara, pasti pernah melihat pantai ini, yang terletak persis di tepi pelabuhan ferry. Pantainya sebenarnya biasa banget, ada sebuah taman bermain yang mirip penampilannya dengan Taman Ade Irma Suryani Nasution di Bandung (i.e.cukup memprihatinkan, hehe). Seingat saya, ada sebuah patung penyu besar di sisi pantai, yang dulunya merupakan semacam akuarium tapi sekarang nampak kurang terawat. Ada semacam saung-saung untuk nongkrong dan duduk-duduk, menghadap ke Laut Jawa yang luas di depan sana.

Boleh jadi, disinilah Kartini dulu mendapat ide mengenai tulisan Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Pada jaman Kartini, kota Jepara pastilah belum terang benderang seperti sekarang. Jadi, konsep tentang berubahnya gelap menjadi terang, paling bisa dimengerti adalah apabila kita berdiri di pantai dan memandang langit yang berubah dari gelap, pelan-pelan membiru dengan cahaya mentari di cakrawala, sampai kehangatan sang Surya terasa bukan saja menbawa terang, tapi juga kehangatan di dalam jiwa dan raga kita. Boleh jadi, disinilah Kartini berdiri dan menikmati suasana pantai, sebelum menuliskan surat-surat buah pemikirannya kepada rekan-rekannya di Belanda. Dari buah pikiran inilah, pandangan orang Barat terhadap perempuan Jawa yang tadinya dianggap `manut saja’, mulai berubah, terkesima oleh kecerdasan putri Indonesia ini.
Selamat Hari Kartini, dan jangan lupa kostum2 pakaian daerah anak2 Anda dipulangin tepat waktu, hehehe

Cheers,

Harry “Harnaz” Nazarudin

(moderator Milis Jalansutra)

Kisah Keluarga Sul Fur (Kimiasutra Sulfit)


Baru pulang jalan-jalan di Hangzhou, sebelum tidur iseng-iseng nulis dulu, soalnya denger-denger ada nama molekul disebut-sebut, hehe.

Ketika saya search sedikit di internet, saya kaget juga, bahwa istilah sulfit saja macam-macam sekali pemahamannya. Banyak juga salah pemahamannya, malah ada juga yang salah ketik (beda i dan a saja, seperti sulfit dan sulfat, dalam kimia bedanya bumi langit!). Saya coba sedikit untuk meluruskan istilah ini.

Nama yang depannya ‘sul’ adalah turunan dari S8, atau keluarga Sul Fur, atau belerang bahasa Indonesianya. Disebut S8 karena dalam bentuk alamiah yang paling stabil untuk belerang adalah kalau ada 8 atom belerang bergandengan tangan membentuk satu lingkaran, sehingga namanya S8. Warnanya kuning, contohnya adalah bongkahan kristal belerang yang terdapat di Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau kristal-kristal mengkilap yang ada di lubang-lubang Kawah Domas di Tangkuban Parahu.

Ikatan S8 dari alam ini, bisa terpecah jika terjadi reaksi kimia. Kalau ini terjadi, maka atom S akan mencari ‘pasangan hidup’ sampai hidupnya stabil lagi, nggak pindah kanan-kiri. ‘Pasangan hidup’ ini tergantung pada yang namanya bilangan oksidasi atau biloks. Masing-masing atom punya nilai sendiri yang kalau dijumlah hasilnya harus netral atau nol. Misalnya, H nilainya +1, dan O nilainya -2, makanya air H2O, berarti (2 x +1) + (1 x -2) = 0. Jadi, begitu lepas, S akan punya biloks sendiri, yang akan menentukan dengan siapa dia akan berjodoh.

Nah, dari keluarga Sul Fur S8 bisa terpecah menjadi 4 Sul bersaudara: nilai biloksnya +2, +4, +6, dan +8. Paling kurang ajar tentu saja si bungsu, +2, namanya Sul Fida, yang bereaksi dengan H membentuk H2S yang bau kentut. Si bungsu ini bisa jadi juga keturunan tionghoa, semarga sama saya, kalau bentuknya H2S2O3, namanya Tio Sul Fat hehe (beneran lho, bukan adiknya Chow Yun Fat). Kakak yang paling sulung, +8, kayaknya orang Swedia, namanya Per Sulfat. Yang paling terkenal adalah kakak nomor dua, +6, namanya Sul Fat – terkenal karena agresif dan asam yang kuat. Ada lagi namanya Zulkifli, itu tetangga saya di Cikarang, gak ada hubungannya sama kimia, hehehe.

Yang sedang kita omongin disini adalah kakaknya Sulfida, yang namanya Sul Fit. Biloksnya +4. Bentuknya bisa H2SO3, atau SO2 kalau belum tercampur air (coba dihitung, dua-duanya biloksnya +4, kan?). Mas Sul Fit ini kurang percaya diri, tidak stabil, dan uring-uringan melulu. Ia selalu ingin menjadi seperti kakaknya, Sulfat si +6, karena kan keren getoloch, asam sulfat, hmmm kesannya garang dan gagah. Jadi, setiap ada kesempatan, ia selalu melepaskan 2 elektron bermuatan negatif, supaya dia bisa naik dari +4 jadi +6. Kalau dia naik, berarti ada yang turun kan? Nah, yang naik namanya oksidasi, sementara yang turun namanya reduksi. Jadi, Sul Fit disebut reduktor, atau membuat orang lain ter-reduksi, supaya dia sendiri bisa ter-oksidasi menjadi seperti kakaknya Mas Sulfat.

Baru sekarang kita masuk ke efek dari si Sul Fit ini. Karena Sulfit pengennya nambah +2 melulu, dan melemparkan 2 elektron ke atom lain, maka dia butuh partner yang sama gatelnya, pengennya nerima elektron melulu. Nah, partner ini kebetulan ada banyak di alam, molekul seksi nan berbahaya namanya Oksigen. Oksigen ini seksi banget, jadi molekul lain suka tergoda dan bergabung dengan Oksigen tanpa melepaskan pasangan yang sudah ada, menjadi ‘teroksidasi’ namanya, seperti menyimpan Oksigen ini sebagai ‘simpanan’. Dunia kimia sama dengan dunia nyata, punya simpenan mula-mula enak, lama-lama ngerongrong, bahkan bisa bikin bangkrut, hehe. Inilah yang menyebabkan kulit kita keriput kalau sudah tua (banyak terkena oksigen), buah apel jadi coklat, dan bahan makanan menjadi busuk.

Nah, disinilah peran si Mas Sul Fit ini tadi. Dia berperan menangkap Oksigen supaya tidak terjadi oksidasi, alias sebagai ‘anti-oksidan’. Dalam wine, misalnya, dia berperan menghambat pertumbuhan bakteri karena kalau ada Oksigen, langsung ditanggap sama Mas Sul Fit sehingga bakteri tidak bisa bernafas. Mas Sul Fit juga gesit nikah siri sama Oksigen sampai-sampai Bang Ragi (yeast) gak kebagian stok Oksigen, jadi bujangan tua, stress, lalu mati sendiri, hehe. Begitu pula semua efek sulfit baik dalam sosis maupun wine, umumnya adalah karena Mas Sul Fit gesit menggaet oksigen.

Lalu kenapa Mas Sul Fit ini bisa membuat gatal-gatal? Memang, seperti kata Cap Gatot dan Yohan, kadang-kadang tubuh kita tiba-tiba memproduksi histamin sebagai ‘alarm’ karena sentimen terhadap salah satu keluarga molekul. Badan saya contohnya, sentimen sama keluarga Nitro Koesoemo yang namanya NO2 (+4), adiknya Nitrat (+5) sang sulung. Kalau saya makan aspirin, yang meningkatkan kadar NO2 dalam tubuh, langsung muka dan tenggorokan saya bengkak. Mas Sul Fit ini juga bisa mengakibatkan efek yang sama pada badan tertentu, namun saya rasa belum ada penjelasan ilmiah mengenai alasannya.

Demikian kisah keluarga Sul Fur…

Cheers,

Harry “Harnaz” Nazarudin

(moderator Milis Jalansutra)

Caper (3) Delhi – Kathmandu, Tips Security Check di Bandara India


Akhirnya, hari H-nya tiba. Pesawat kami berangkat jam 08.40 dari Delhi. Untungnya, kami menginap di The Uppals (National Highway no. 8, New Delhi 110037, tel 0091 1141511515) yang terletak hanya 15 menit dari IndiraGandhiInternationalAirport. "You have to be ready in the airport 3 hours before Sir! This in international flight" kata resepsionis hotel. Iya sih, internasional, tapi Nepal getoloch! Kan deket? Mulailah kita melalui security check di Bandara New Delhi yang super ribet dan ketat. Sekalian saya jelasin ya, supaya yang mau ke India bisa siap-siap dulu!

Yang pertama, jangan lupa print semua e-tiket. Karena, kalau tidak membawa print-out tiket dengan nama Anda dan tanggal hari itu, Anda nggak akan boleh masuk airport oleh petugas berseragam coklat yang muka dan gayanya selalu nyebelin. Kalau Anda gak bawa tiket, maka paling sial Anda harus mencari nama Anda di daftar semua penumpang pesawat yang akan terbang dari Delhi pada tanggal tersebut, pada kertas continuous form yang panjangnya bisa satu meter! Dalam pengecekan ini saja biasanya antriannya sudah panjang. Kemudian, langkah kedua adalah X-Ray. Nah, ini edan juga. Di India, X-Ray dilakukan oleh airline, bukan oleh pemerintah. Jadi, tergantung airline Anda, misalnya Jet Airways, carilah mesin X-Ray yang ada tulisan Jet Airways-nya, plus ada petugasnya juga. Tas yang masuk bagasi di-scan disini.

Awas! Perhatikan bahwa sang petugas harus menempelkan stiker ke sisi tas Anda. Jangan sampai dia lupa, atau stikernya sobek sedikit – karena akan ditolak cek in! Kemudian, sesudah stikernya dipasang, jangan buka tas Anda sampai di tujuan nanti, karena kalau stikernya sobek karena tas dibuka sesudah X-Ray Anda ditolak cek in dan harus ngantri X-Ray lagi. Sampai sini, kalau sial sudah habis 1 jam – 30 menit di gerbang masuk dan 30 menit di X-Ray. Jangan lupa juga mengambil kertas tag untuk tiap tas yang akan dibawa ke kabin di counter cek in!

Nah, berikutnya adalah pengecekan paspor. Bandara Delhi sangat aneh posisi counternya, miring kiri-kanan dan nggak jelas ngantrinya, hehe. Ambil saja antrian yang paling kosong dan tegak lurus dengan salah satu meja yang ada petugasnya. Nah, setelah itu, lagi-lagi di Delhi ini antik: posisi lounge-nya sebelum security! Jadi masuk lounge tidak bisa lama-lama karena harus menyediakan waktu untuk security check. Lagian ngapain juga masuk lounge-nya, saya pernah coba lounge krisflyer gold-nya: toiletnya gantian, makanan cuma snack, dan penuh banget! Lebih baik langsung ke security karena security-nya super ribet.

Di India ada sistem yang namanya tag system. Jadi, setiap tas yang Anda bawa – baik itu tas pinggang, tas kabin, atau bahkan kantong kresek – semuanya harus ada tag dari kertas yang diambil di counter cek in. Nah, di security ini, antriannya panjaaaaang banget. Pertama-tama perhatikan nomor gate Anda, dan mengantrilah di jalur yang benar (kalau ditolak diujung gara2 beginian kan kesel). Nah, sesudah itu, siapkan semuanya: masukkan semua dompet, kunci, dll, ke dalam tas, keluarkan komputer Anda, dan jangan lupa bawa paspor dan boarding pass Anda. Disini, tas Anda akan masuk X-Ray, dan Anda akan masuk ke jalur lain lagi untuk personal check – ingat-ingat, dimana posisi tas Anda. Masuk ke security, Anda akan digerepe (diraba2) dengan sukses sama petugas yang mukanya nyebelin tadi. Makin banyak dompet, makin lama diraba-nya, jadi kecuali Anda memang menikmati diraba sama petugas India (jangan bayangin Aishwarya Rai, bayangin polisi gendut yang di Slumdog Millionaire!), pastikan semua kantung Anda kosong.

Untuk yang wanita ada tempat rabaan khusus yang berpenutup, dan antriannya lebih panjang karena proses raba-merabanya lebih lama. Sesudah selesai, pastikan petugas sesudah selesai meraba, mencap boarding pass Anda – tanpa cap gak boleh naik pesawat! Lalu, dari situ, kembalilah ke counter tempat tas Anda di-X-Ray. Carilah tas Anda, mudah-mudahan tidak disuruh dibongkar isinya. Hati-hati dengan korek api, mendingan dibuang daripada ribet di security. Disini, perhatikan bahwa petugas harus mencap semua tag kertas Anda – jangan kelewat! Kalau capnya kurang jelas, langsung complain dan minta dicap lagi, kalau tidak, Anda bisa ditolak masuk pesawat. Sesudah ini beres, barulah Anda bisa menunggu di gate. Dari sini, kalau belanja, Anda tidak akan dapat kantung plastik – karena kantung plastiknya tidak ada tag-nya! Hehe. Tapi, saya mengerti juga kenapa ribet begini. Kalau negara Anda tetangganya sangar-sangar seperti Afghanistan dan Pakistan, ya memang begini jadinya. Dalam perjalanan ini saja saya melihat ada 3 orang yang mukanya (menurut saya) mirip banget sama Osama Bin Laden, plus janggut, sorban, dan bajunya!

Akhirnya, kami sampai juga di gate. Nampak orang-orang menunggu penerbangan Jet Airways ke Kathmandu. Wajahnya terlihat lain dengan orang India, kulitnya sedikit lebih putih dengan mata yang sipit, sudah mirip orang Cina tetapi kulitnya sawo matang. Beberapa orang memakai topi, semacam kopiah a la Nepal (yes, namanya topi). Saya sudah semangat nih, aura petualangan semakin kental. Apalagi, Jet Airways meng-upgrade kami untuk duduk di kelas bisnis! Jadilah kami duduk dengan santainya di kursi besar. Saya memilih Indian Option untuk makan pagi, walaupun vegetarian. Jet Airways merupakan maskapai penerbangan India yang cukup bagus, dengan pesawat Airbus A320-300, TV dengan layar sentuh, dan pelayanan yang sangat ramah. Di kelas bisnis ya enak makannya, hehe – lengkap dengan garlic naan, paneer saus bayam, dan kentang masak kari.

Tak berapa lama kemudian, pilot membuat pengumuman, bahwa kita sudah mencapai setengah perjalanan menuju Kathmandu. Di sebelah kiri pesawat, nampak jajaran puncak pegunungan dengan puncak diliputi salju, yang saking tingginya, seolah-olah puncaknya sama tinggi dengan pesawat kami. "Ladies and gentlemen, it’s a clear day, and you can The Himalayas on our left side" kata pilotnya. Ada sebuah puncak yang menjulang paling tinggi – ini pasti Gunung Everest! Sayapun menjepret dengan kamera saja – jarang-jarang kan kita liat Everest, hehe. "Benar-benar atap dunia ya…" kata Edwin. Dibawah kami, terlihat motif petak-petak kecil sekali, peradaban manusia yang terlihat seperti semut dari pesawat kami. Tanah terlihat coklat dan gersang, namun luas sekali. Tidak terbayang bagi saya yang berasal dari negara kepulauan, bagaimana rasanya tinggal di wilayah daratan seluas ini. "We will land in Kathmandu in 20 minutes" kata pilot mengumumkan. "Notice that there is 15 minutes time difference between Delhi and Kathmandu". Hah? 15 menit? Kagok tapi nyata!

Cheers,

Harry “Harnaz” Nazarudin

(moderator Milis Jalansutra)

Jalan-jalan menggunakan Busway (masih belum Nyaman)


Iseng-iseng sabtu pagi ingin menggunakan moda transportasi Busway/Transjakarta koridor 9 Pinang Ranti – Pluit, yang belum lama di operasikan. Dari rumah menggunakan motor berangkat menuju ke terminal Pinang Ranti, nitip motor dirumah saudara yang kebetulan berdekatan dengan Terminal Pinang Ranti, hanya berjarak 300 meter saja J, dengan berjalan kaki saya menuju ke Halte Busway. Sampai di loket penjualan saya pun langsung membeli tiket busway yang berharga Rp. 3.500, lembaran tiket yang berupa kertas, berbeda dengan koridor 1 Blok M – Kota yang menggunakan kartu yang tinggal di cemplungkan ke suatu alat untuk masuk ke dalam ruang tunggu busway, sayang sekali system yang di koridor 1 sudah bagus, harus kembali lagi menggunakan tiket kertas .

Lanjutkan membaca Jalan-jalan menggunakan Busway (masih belum Nyaman)

Jajal Sirkuit Sentul… Pertama kalinya….!!!


Lay Out Trek Sirkuit Sentul
Lay Out Trek Sirkuit Sentul

Ketika sedang asyik kerja, SMS masuk dari Bodats, seorang blogger otomotif, “jadi ikutan test ride Bajaj Pulsar 220 gak disentul..?“ beberapa baris text sms di layar HP ketika saya membuka SMS tersebut. Kontan Cuma 2 huruf saja saya membalasnya “OK”. Selesai membalas saya pun langsung menelepon yang bersangkutan saja, dan bodats pun langsung memberikan detailnya dan rupanya nama saya juga sudah dicantumkan dalam list pesertanya…. Mantap Blogger kuliner jajal Sirkuit Sentul, kayak apa rasanya he he he J.

Jam 08.00 saya sudah tiba di Pelataran parkir Gedung Menara Imperium di bilangan Kuningan. Dengan bus yang sudah disiapkan Panitia akhirnya saya meluncur ke Sirkuit Sentul, Bogor. Jam 09.30 saya sudah tiba di pit yang sudah disiapkan Panitia. Dari Pintu Gerbang Sirkuit Sentul terhampar gunung Hambalang yang sudah mulai kehabisan sisa-sisa hijau pepohonan. Di beberapa sudut area luar sirkuit tampak renovasi kecil dan perbaikan serta penambahan fasilitas di sirkuit sentul ini. ketika memasuki Parkiran area Paddock tampak beberapa garasi paddock yang tampak kusam dan tidak begitu terawat. Lanjutkan membaca Jajal Sirkuit Sentul… Pertama kalinya….!!!

KELILING JAKARTA- BEKASI VIA PUNCAK DAN PURWAKARTA


Peta Rute
Peta Rute

Setelah sekian lama tidak melakukan perjalanan lagi dikarenakan kesibukan yang cukup menyita waktu dan disamping itu dikarenakan semakin renta-nya si bebex bohay (Sebutan untuk motor Honda Karisma) yang lebih dari 6 tahun menemani dikala suka maupun duka, dari pacaran sampe punya istri…” halah apaan sih……..”. dikompori oleh bodats alias Henry Parasian Siregar, aktivis Bloger otomotif dan juga pencinta kuliner maka disusunlah rencana untuk sekedar jalan-jalan memanaskan si bebex ini. gayung pun bersambut seorang rekan dari milis Karisma Honda, Riezki Ferdian Shandy alias “She om” yang sudah mengganti tunggangannya dari Honda Karisma menjadi Yamaha Byson. Ternyata doi sudah ngebet pengen jajal motor byson-nya di jalur yang banyak tikungannya, perjalanan ini pun kata doi (she om) yang sempat curhat sebagai pelampiasan, karena single touring-nya menuju kota pekalongan harus gagal karena ada sabotase, padahal doi sudah sampai setengah perjalanan alias sudah sampe kota Indramayu…. Weleh he he he he piss om shandy. Rencana awal yang cuma nginap semalam di puncak harus berantakan gara-gara ulah salah seorang miliser Karisma Honda yang dengan sengaja menyabotase rencana yang sudah cukup matang, alasannya klasik…. “maaf ya brader saya gak bisa bangun pagi……… “ .. kalo kata bang Rhoma “ TERLALU”……..!. (Cerita hanya rekayasa saja dan bukan yang sebenarnya untuk menghindari dari segala fitnah). Akhirnya bertiga kami menyepakati untuk menempuh jalur puncak menuju ke Cipanas untuk sarapan bubur Ayam yang menjadi langganan saya dan Bodats jika sedang berkunjung ke Cipanas lalu dilanjutkan ke Purwakarta mencicipi Sate Maranggi, sate Khas Purwakarta dan dilanjutkan balik via Karawang menuju Bekasi dan Jakarta. Kami membagi menjadi 3 etape, etape pertama Jakarta Cipanas, Etape ke 2 Cipanas – Purwakarta dan etape ke 3 Purwakarta – Jakarta Lanjutkan membaca KELILING JAKARTA- BEKASI VIA PUNCAK DAN PURWAKARTA