Ironi Museum Nasional


Museum Nasional

Museum Nasional

Kenapa saya mengambil judul diatas…? Yup karena keprihatinan saya melihat kondisi Museum Nasional. Berawal dari kunjungan saya ke Museum Nasional, dengan niat ingin melihat koleksi dan uniknya Gedung Museum Nasional yang merupakan peninggalan jaman Belanda. Sebelum berkunjung ke museum Nasional saya sempatkan untuk menghubungi Museum nasional via telepon, dan sobat saya menghubungi via email yang alamatnya tercantum dalam website museum Nasional hanya untuk menanyakan apakah ada guide dan berapa tarifnya. Hal pertama yang menjengkelkan adalah bahwa no telepon yang ada di website nyambung tapi tidak pernah ada yang angkat, lalu teman saya pun yang menghubungi via email tidak ada balasan sama sekali. Akhirnya tanya sana tanya sini akhirnya bisa menghubungi Museum nasional, ternyata no telepon dan alamat email di website sudah tidak valid lagi, menurut pihak museum nasional hal ini sudah diberitahukan ke pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, namun sampai dengan saat ini tidak pernah ada realisasinya. Salah satu contoh kerja birokrasi yang sangat amat lambat. Hal yang aneh lagi saat saya menanyakan perihal pemesanan jasa guide, jawabannya adalah bisa langsung ditempat, bapak tinggal datang saja… heh…? saya sempat terkaget-kaget menerima jawaban tersebut, saya bahkan sampai mengulang lagi pertanyaan tersebut, namun rupanya jawabannya sama, soal tarif pun mereka tidak ada tarif yang jelas… ironis……..

Saat hari H tiba saya pun jadi mengunjungi Museum Nasional, dengan harga ticket yang relatif murah hanya5 ribu rupiah. Tidak ada penjagaan yang ketat, bahkan tanpa bayar pun saya yakin bisa masuk karena tidak ada petugas yang memeriksa tiket. Ketika saya menanyakan tentang petugas guide kepada pegawai penjual tiket, jawabannya membuat saya bengong…? ”petugasnya Cuma 1 pak…!” itu juga udah di booking selama 2 jam…!”. whats…????? lah katanya tinggal datang aja….???? ya sudahlah akhirnya saya pun berkeliling tanpa ada petugas guidenya. Saya pun mulai berkeliling, yang pertama saya lihat adalah koleksi patung-patung, arca dan prasasti. Ada yang diletakan di ruang terbuka ada yang di koridor bangunan, tampak tidak ada penataan yang baik, bahkan keterangan yang tertera di bawah arca dibuat ala kadarnya. Ketika saya memasuki koleksi kain, ruangannya cukup bersih tapi sedikit berdebu begitu juga dengan koleksi keramik dan koleksi miniatur rumah adat propinsi di Indonesia, ironi kedua.

Ketika saya sedang asyik berkeliling tampak 3 orang turis bule yang ditemani oleh guide bule juga, saya mencoba mencuri dengar penjelasan dari guide bule tersebut, guide bule tersebut sangat fasih sekali menerangkannya. Dari mulai fungsi senjata khas orang dayak, lalu pakaian adat dari suku di Papua, saya pun terpukau oleh penjelasan tersebut yang saya pun sebagai orang Indonesia tidak tahu artinya barang-barang tersebut. Jadi malu saya he he he he. Ini ironi yang ketiga.

Saya pun mulai naik ke lantai dua ke ruang khasanah yang merupakan koleksi barang-barang yang sangat bernilai tinggi, dari mulai keris yang bersarung dan bergagang emas bertahtakan berlian. Mahkota raja melayu di Kalimantan, sebuah keris asal bali bersepuhkan emas murni, sayang disini dilarang memotret. Bahkan ada arca yang terbuat dari batu yang sangat halus pengerjaannya, detailnya begitu rapih. Namun sayang penjagaan disini ala kadarnya juga padahal koleksinya berharga sangat-sangat mahal. Ironi yang keempat.
saya pun lalu berpindah ke sayap kanan Museum nasional yang merupakan bangunan modern dengan 3 lantai, eskalator yang otomatis berjalan ketika ada orang yang menaikinya, lift yang tersedia bahkan dari segi pencahayaan ruangannya bagus. tapi lagi-lagi budaya orang Indonesia begitu kentara pandai membangun tapi tidak pandai merawat, TV LCD yang ada sudah tidak berfungsi. Dugaan saya TV LCD ini digunakan untuk menayangkan video ragam budaya bangsa Indonesia. Ironi yang ke lima.

Sayang sekali museum nasional tidak dikelola secara profesional, padahal di luar negeri museum merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi oleh para turis untuk mengenal budaya bangsa yang dikunjunginya.

Salam Ironi
AX

3 thoughts on “Ironi Museum Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s