Kimiasutra Pangeran Nazarudin dan Putri Etanol dari Kerajaan Alhok


Belakangan ini nama saya memang sering didiskreditkan oleh berbagai media massa di Indonesia, karena mirip dengan nama seorang buronan di Singapura. Bahkan ada lelucon baru di twitter yang menyakitkan hati: Nama saya Nazarudin: boleh dipanggil Nazar, Udin, Rudin, atau Didin, asal jangan dipanggil KPK. Hayyah! Kok jadi begini yah?

Nah, rupanya milis JS juga sedang dilanda berbagai isu mengenai alkohol. Jadi, saya terpanggil untuk cerita lagi, dan berhubung kali ini nama Nazarudin sedang jelek beritanya, saya mau sedikit menghibur hati dengan mengingatkan bahwa Nazarudin adalah nama seorang perdana mentri jaman dulu di India yang pintar sekali, mirip Abu Nawas. Kali ini, judul kisahnya adalah Pangeran Nazarudin dan Kerajaan Alkohol¡­.

Alkisah, ada sebuah kerajaan namanya Kerajaan Alkohol. Semua anggota kerajaan ini, dari Raja sampai rakyatnya, punya ciri khas yakni namanya semua berakhiran ¨Col. Misalnya: ada toluol, etanol, butandiol, poliol, dan lain-lain. Ciri-cirinya, terdiri dari rantai karbon dengan gugus hidroksil (-OH) pada salah satu gugusnya. Jadi, kalau sebuah senyawa ingin menjadi warga negara Kerajaan Alkohol, maka harus ditempeli gugus hidroksil dulu, baru bisa ganti nama (pakai Surat Keterangan Ganti Nama dan SBKKA, Surat Bukti Kewarganegaraan Kerajaan Alkohol), baru bisa resmi menjadi warga negara Kerajaan Alkohol. Misalnya marganya Me, dengan nama Ta Na (CH4), ditambah hidroksil jadi Metanol (CH3-OH). Marga Pro, nama Pa Na (CH3-CH2-CH3), jadi Propanol (CH3-CH2-CH2-OH), dan seterusnya¡­

Tapi, orang sering salah menyebut Alkohol. Ini tak lain adalah karena putri kedua dari Sang Raja Alkohol, yang namanya Putri Etanol (CH3-CH2-OH). Nah, sang putri ini sangat bahenol, cantik menawan, bisa bikin mabuk kepayang dan lupa daratan. Jadi kalau orang menyebut ¡®Alkohol¡¯, bisa juga mengacu pada Sang Putri yang bahenol ini. Syahdan, Pangeran Nazarudin dari Negri Jomblo, suatu hari datang ke Istana Raja Alkohol untuk melamar Sang Putri Etanol ini. Sang Raja tidak mau memberikan putrinya yang paling cantik pada sembarangan orang, dan memutuskan untuk menguji Nazarudin. ¡°Semua putriku sudah kutaruh dalam Menara Destilasi di Istanaku!¡± kata Sang Raja. ¡°Kau harus bisa memancing mereka keluar dan memilih salah satu untuk dijadikan istri. Kau punya kesempatan sekali saja untuk memilih!¡± katanya. Wah, bingung juga Nazarudin. Padahal, ia belum pernah bertemu Sang Putri Etanol, apalagi melihat fotonya. Bagaimana caranya?

Satu hal yang ia tahu dari Institut Gajah tempatnya menuntut ilmu, bahwa ukuran tubuh putri-putri alkohol ini berurutan. Metanol (1 C) paling kecil, Etanol (2 C) lebih tinggi, Propanol (3 C) lebih tinggi lagi, dan sebagainya. Iapun kemudian menggunakan teknik yang sedikit kejam: ia bakar ranting kayu dan mengasapi Menara Destilasi sampai ruangannya penuh asap. Mula-mula, Putri Metanol, yang badannya paling kecil, pasti tidak tahan dan loncat duluan. Hop! Lalu, urutan kedua, pastilah Putri Etanol yang dia cari-cari! Ketiga pasti Putri Propanol, demikian seterusnya sesuai tinggi dan berat badannya. Akhirnya, Pangeran Nazarudin berhasil menangkap Putri Etanol dan meminangnya sebagai istri¡­ lalu berganti nama jadi¡­ Nazarudol! Hayyah nggak banget deh!

Begitulah kira-kira ilustrasi dari sebuah proses yang namanya destilasi, yang menjadi kunci dari permasalahan alkohol ini. Kisah diatas nyaris true story, karena antara alkohol satu dengan yang lainnya: methanol, etanol, propanol, butanol ¨C rasa, bentuk, dan warnanya mirip2 semua. Hanya proses destilasi-lah yang bisa membedakan berbagai jenis alkohol ini berdasarkan beratnya. Apa jadinya kalau Pangeran Nazarudin salah pilih£¿

Putri Metanol, memang cantik dan bahenol juga tapi sangat kejam. Rumusnya CH3-OH, kalau dioksidasi menjadi formaldehid (BTW, yang membahas ini menulis Formal De Hit¡­ lutunaah kayak nama Caf¨¦, hehehe) kemudian menjadi asam format (HCO2H). Yang bahaya sebenarnya adalah asam format ini, karena akan menghalangi oksigen masuk ke sel sehingga mencekik sel-sel kita. Metanol juga merusak sel optik, yang paling rentan terhadap suplai oksigen, sehingga membuat kehilangan penglihatan. Inilah yang disebut alkohol kayu, karena jaman dulu methanol diambil dari proses penghancuran selulosa (kayu) dengan cara dimasak.

Urutan keluarnya putri dalam cerita diatas juga benar adanya. Dalam proses pembuatan minuman beralkohol, biasanya dimulai dengan fermentasi, dimana ragi mengubah glukosa menjadi CO2 dan alkohol (baca: Peuyeum dan Pirupat). Tapi, proses alam ini menghasilkan bermacam-macam alkohol yang bercampur jadi satu. Lalu, dilakukan destilasi, dengan memanaskan adonan awal. Yang berat molekulnya paling ringan akan mendidih duluan, dan uapnya ditampung dan diembunkan kembali. Yang pertama adalah metanol pada suhu 65oC (ini disebut ¡®head¡¯), kemudian ethanol pada 78oC, lalu isopropil alkohol pada 82.5oC (ini disebut ¡®tail¡¯), dan seterusnya¡­

Mengapa sering terjadi keracunan pada produksi alkohol rumahan? Sederhana saja, karena pembuatnya kurang paham ilmu kimia. Padahal, mudah saja: tinggal pasang thermometer pada panci destilasi. Yang keluar pertama, pada suhu 65oC, jangan diminum! Yang keluar kedua, suhu 78oC, baru diambil. Itupun harus didestilasi lagi, untuk memurnikan alkoholnya, terus dan terus lagi sampai kadarnya stabil. Baru dicampur dengan air atau diberi rasa tertentu. Baru bisa diminum! Kalau tetesan pertama langsung diminum, rasanya sama ¨C tapi, bisa buta!

Cheers

Harnaz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s