Kisah Keluarga Sul Fur (Kimiasutra Sulfit)


Baru pulang jalan-jalan di Hangzhou, sebelum tidur iseng-iseng nulis dulu, soalnya denger-denger ada nama molekul disebut-sebut, hehe.

Ketika saya search sedikit di internet, saya kaget juga, bahwa istilah sulfit saja macam-macam sekali pemahamannya. Banyak juga salah pemahamannya, malah ada juga yang salah ketik (beda i dan a saja, seperti sulfit dan sulfat, dalam kimia bedanya bumi langit!). Saya coba sedikit untuk meluruskan istilah ini.

Nama yang depannya ‘sul’ adalah turunan dari S8, atau keluarga Sul Fur, atau belerang bahasa Indonesianya. Disebut S8 karena dalam bentuk alamiah yang paling stabil untuk belerang adalah kalau ada 8 atom belerang bergandengan tangan membentuk satu lingkaran, sehingga namanya S8. Warnanya kuning, contohnya adalah bongkahan kristal belerang yang terdapat di Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau kristal-kristal mengkilap yang ada di lubang-lubang Kawah Domas di Tangkuban Parahu.

Ikatan S8 dari alam ini, bisa terpecah jika terjadi reaksi kimia. Kalau ini terjadi, maka atom S akan mencari ‘pasangan hidup’ sampai hidupnya stabil lagi, nggak pindah kanan-kiri. ‘Pasangan hidup’ ini tergantung pada yang namanya bilangan oksidasi atau biloks. Masing-masing atom punya nilai sendiri yang kalau dijumlah hasilnya harus netral atau nol. Misalnya, H nilainya +1, dan O nilainya -2, makanya air H2O, berarti (2 x +1) + (1 x -2) = 0. Jadi, begitu lepas, S akan punya biloks sendiri, yang akan menentukan dengan siapa dia akan berjodoh.

Nah, dari keluarga Sul Fur S8 bisa terpecah menjadi 4 Sul bersaudara: nilai biloksnya +2, +4, +6, dan +8. Paling kurang ajar tentu saja si bungsu, +2, namanya Sul Fida, yang bereaksi dengan H membentuk H2S yang bau kentut. Si bungsu ini bisa jadi juga keturunan tionghoa, semarga sama saya, kalau bentuknya H2S2O3, namanya Tio Sul Fat hehe (beneran lho, bukan adiknya Chow Yun Fat). Kakak yang paling sulung, +8, kayaknya orang Swedia, namanya Per Sulfat. Yang paling terkenal adalah kakak nomor dua, +6, namanya Sul Fat – terkenal karena agresif dan asam yang kuat. Ada lagi namanya Zulkifli, itu tetangga saya di Cikarang, gak ada hubungannya sama kimia, hehehe.

Yang sedang kita omongin disini adalah kakaknya Sulfida, yang namanya Sul Fit. Biloksnya +4. Bentuknya bisa H2SO3, atau SO2 kalau belum tercampur air (coba dihitung, dua-duanya biloksnya +4, kan?). Mas Sul Fit ini kurang percaya diri, tidak stabil, dan uring-uringan melulu. Ia selalu ingin menjadi seperti kakaknya, Sulfat si +6, karena kan keren getoloch, asam sulfat, hmmm kesannya garang dan gagah. Jadi, setiap ada kesempatan, ia selalu melepaskan 2 elektron bermuatan negatif, supaya dia bisa naik dari +4 jadi +6. Kalau dia naik, berarti ada yang turun kan? Nah, yang naik namanya oksidasi, sementara yang turun namanya reduksi. Jadi, Sul Fit disebut reduktor, atau membuat orang lain ter-reduksi, supaya dia sendiri bisa ter-oksidasi menjadi seperti kakaknya Mas Sulfat.

Baru sekarang kita masuk ke efek dari si Sul Fit ini. Karena Sulfit pengennya nambah +2 melulu, dan melemparkan 2 elektron ke atom lain, maka dia butuh partner yang sama gatelnya, pengennya nerima elektron melulu. Nah, partner ini kebetulan ada banyak di alam, molekul seksi nan berbahaya namanya Oksigen. Oksigen ini seksi banget, jadi molekul lain suka tergoda dan bergabung dengan Oksigen tanpa melepaskan pasangan yang sudah ada, menjadi ‘teroksidasi’ namanya, seperti menyimpan Oksigen ini sebagai ‘simpanan’. Dunia kimia sama dengan dunia nyata, punya simpenan mula-mula enak, lama-lama ngerongrong, bahkan bisa bikin bangkrut, hehe. Inilah yang menyebabkan kulit kita keriput kalau sudah tua (banyak terkena oksigen), buah apel jadi coklat, dan bahan makanan menjadi busuk.

Nah, disinilah peran si Mas Sul Fit ini tadi. Dia berperan menangkap Oksigen supaya tidak terjadi oksidasi, alias sebagai ‘anti-oksidan’. Dalam wine, misalnya, dia berperan menghambat pertumbuhan bakteri karena kalau ada Oksigen, langsung ditanggap sama Mas Sul Fit sehingga bakteri tidak bisa bernafas. Mas Sul Fit juga gesit nikah siri sama Oksigen sampai-sampai Bang Ragi (yeast) gak kebagian stok Oksigen, jadi bujangan tua, stress, lalu mati sendiri, hehe. Begitu pula semua efek sulfit baik dalam sosis maupun wine, umumnya adalah karena Mas Sul Fit gesit menggaet oksigen.

Lalu kenapa Mas Sul Fit ini bisa membuat gatal-gatal? Memang, seperti kata Cap Gatot dan Yohan, kadang-kadang tubuh kita tiba-tiba memproduksi histamin sebagai ‘alarm’ karena sentimen terhadap salah satu keluarga molekul. Badan saya contohnya, sentimen sama keluarga Nitro Koesoemo yang namanya NO2 (+4), adiknya Nitrat (+5) sang sulung. Kalau saya makan aspirin, yang meningkatkan kadar NO2 dalam tubuh, langsung muka dan tenggorokan saya bengkak. Mas Sul Fit ini juga bisa mengakibatkan efek yang sama pada badan tertentu, namun saya rasa belum ada penjelasan ilmiah mengenai alasannya.

Demikian kisah keluarga Sul Fur…

Cheers,

Harry “Harnaz” Nazarudin

(moderator Milis Jalansutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s