Catatan Jejak-jejak Kartini di Jepara


Memperingati Hari Kartini, tidak bisa terlepas dari kota Jepara, tempat pelopor feminisme Indonesia ini lahir. Buat saya, `suasana Kartini’ juga menjadi penanda wilayah Jawa Tengah yang jarang kita dengar, yakni pesisir Utara Jateng ke arah Timur. Berarti dari Semarang sampai ke perbatasan Jawa Timur sebelum Tuban.

Sebenarnya, Raden Adjeng Kartini tidak dilahirkan di kota Jepara, melainkan di sebuah kota kecil bernama Mayong. Kota ini termasuk suburb dari Jepara. Uniknya, saya menemukan nama kota ini justru di resort merah Losari Coffee Plantation. Resort ini terletak tidak jauh dari Eva Coffee House, tempat singgah favorit bagi yang sedang berkendara dari Semarang ke Solo atau sebaliknya. Eva Coffee House punya andalan masakan yang konon tinggal satu-satunya di Indonesia: gudeg manggar, atau gudeg dari bunga kelapa. Tempat ini juga terkenal dengan sirop kopinya, juga barang yang sudah langka di Indonesia.
Resort Losari Coffee Plantation boleh diacungi jempol karena ketekunannya mempertahankan `aroma’ perkebunan kopi tempo doeloe di Jawa Tengah (walaupun mahalnya gak ketulungan).

Disana, di jalan pintu masuknya berjajar pohon Kapok (kapuk) Jawa, yang masing-masing diberi nomor dan dirawat apik serta dimonitor perkembangannya. Di kebun-kebunnya ada pepohonan Jawa kuno seperti kecombrang dengan bunganya yang merah muda merona (wadoh, udah merah, muda, merona lagi! Hehe), serta di dalamnya ada koleksi pohon-pohon bamboo kuno seperti bamboo betung dan jenis bamboo lainnya yang diameter batangnya mencapai paha orang dewasa.

Yang unik disini dan berhubungan dengan Kartini adalah lobby atau reception-nya. Kalau resort-resort lainnya seperti Amanjiwo di dekat Borobudur menyajikan ruang penerima (reception area) yang serba megah dan mewah, di Losari ini justru ruang penerimanya sangat kecil, sempit, dengan dinding kayu bersusun mirip dinding kayu rumah-rumah di film koboi. Interiornya pun sederhana, dengan kayu-kayu yang tebal namun sudah lapuk karena usia. Di samping ini ada tulisan besar `Mayong’ beserta angka ketinggian kota ini.

Rupanya, gedung stasiun ini dulunya adalah stasiun kereta api kota Mayong yang diangkut semuanya kesini. Filosofinya adalah, seperti di cerita Harry Potter, stasiun kereta api jaman dulu adalah gerbang menuju tempat baru. Sebelum masuk ke sebuah tempat baru, pasti harus lewat stasiun dulu. Inilah harapan resainer Losari, agar `Mayong Reception’ ini menjadi gerbang ke dunia Jawa kuno di dalam kawasan resor ini. Boleh jadi, stasiun ini adalah saksi bisu RA Kartini, lantainya adalah lantai yang sama yang pernah dilangkahinya, atau dindingnya pernah disandarinya ketika ia menunggu ayahnya pulang.

Kalau ke Jepara, daerah yang tidak boleh dilewatkan adalah Tahunan. Daerah ini kira-kira 45 menit keluar kota, dan merupakan pusat industry mebel kayu di Jepara. Saya dua kali kesini, pertama dengan Novel cs dan kedua dengan keluarga. Wah mantab tenan belanja mebel disini. Uang yang kalau di Jakarta dapetnya cuma pik pik Olympic, disini bisa dapat kayu jati (entah muda atau apa, at least lebih baik dari triplek hehe). Ada lemari, ada kursi, dua kali saya kesana, dua-dua kalinya saya belanja, yang pertama satu set bangku panjang dan yang kedua satu set meja kopi. Dikirim ke Jakarta? Gak masalah! Kalau gak salah ada biaya dibawah Rp 100.000,- per buah untuk pengirimannya. Cara membungkusnya khas, dengan kertas kardus corrugated dan diikat raffia hitam, tanpa kotak. Sampainya lumayan cepat, bagus, dan murah pula!

Nah, `jejak Kartini’ di Tahunan bisa kita lihat di sebuah desain meja kopi yang disebut `kursi kartini’. Saya sendiri nggak tahu kenapa namanya `kursi kartini’. Bentuknya sebenarnya mirip desain meja kopi kuno jaman Belanda, dimana sandarannya melengkung, jadi satu dengan sandaran tangan. Tingginya hanya setengah punggung kalau diduduki, dengan kaki yang pendek dan dasar yang lebar. Secara umum bentuknya seperti sudut bersisi tiga dari sebuah kubus. Biasanya dijual sepasang dengan sebuah meja kecil, kira-kira setinggi 50 cm. Konon, desain ini diambil dari desain meja kopi milik Kartini yang ada di Museum Kartini di Jepara. Sayang, saya belum pernah mampir ke museum ini. Dan, Tahunan bukan hanya terkenal dengan mebelnya – tapi juga terkenal duriannya! Konon, di daerah pesisir yang panas ini durian tumbuh subur dan dulu pernah menjadi primadona kawasan ini. Duren paling banyak ditemukan di Pasar Tahunan yang ada di sebelah kanan jalan menuju pusat mebel. Siapa tahu, dulu Kartini pernah duduk di dingklik di pasar ini, sambil nyelamotin biji durian Jepara!

Yang terakhir, selain patung Kartini di pusat kota Jepara, adalah Pantai Kartini. Kalau yang pernah ke Karimunjawa lewat Jepara, pasti pernah melihat pantai ini, yang terletak persis di tepi pelabuhan ferry. Pantainya sebenarnya biasa banget, ada sebuah taman bermain yang mirip penampilannya dengan Taman Ade Irma Suryani Nasution di Bandung (i.e.cukup memprihatinkan, hehe). Seingat saya, ada sebuah patung penyu besar di sisi pantai, yang dulunya merupakan semacam akuarium tapi sekarang nampak kurang terawat. Ada semacam saung-saung untuk nongkrong dan duduk-duduk, menghadap ke Laut Jawa yang luas di depan sana.

Boleh jadi, disinilah Kartini dulu mendapat ide mengenai tulisan Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Pada jaman Kartini, kota Jepara pastilah belum terang benderang seperti sekarang. Jadi, konsep tentang berubahnya gelap menjadi terang, paling bisa dimengerti adalah apabila kita berdiri di pantai dan memandang langit yang berubah dari gelap, pelan-pelan membiru dengan cahaya mentari di cakrawala, sampai kehangatan sang Surya terasa bukan saja menbawa terang, tapi juga kehangatan di dalam jiwa dan raga kita. Boleh jadi, disinilah Kartini berdiri dan menikmati suasana pantai, sebelum menuliskan surat-surat buah pemikirannya kepada rekan-rekannya di Belanda. Dari buah pikiran inilah, pandangan orang Barat terhadap perempuan Jawa yang tadinya dianggap `manut saja’, mulai berubah, terkesima oleh kecerdasan putri Indonesia ini.
Selamat Hari Kartini, dan jangan lupa kostum2 pakaian daerah anak2 Anda dipulangin tepat waktu, hehehe

Cheers,

Harry “Harnaz” Nazarudin

(moderator Milis Jalansutra)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s