PERJALANAN MENUJU KE BENDUNGAN WALAHAR KARAWANG TIMUR


bendungan walahar

Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan singkat akibat efek dari ngidam pepes yang sudah ke ubun-ubun……. Berdua dengan Henry Parasian aka Bodats seorang bujangan batak tulen tapi doyan ngunyah mendoan dan doyan pepes. Setelah merencanakan dengan matang perjalanan ini, hasil search di google akhirnya diputuskan pada hari senin tanggal 6 Desember 2010. Sengaja kami pilih tanggal 6 bukan tanggal 7 desember yang notabene merupakan hari libur, kami yakin di tanggal 7 desember ini tempat yang akan kami kunjungi akan sangat padat sekali. Rencana sempat akan berubah ketika beberapa teman mengkontak kami untuk turut serta dalam perjalanan, tapi dengan konsekuensi pindah tanggal menjadi tanggal 7, maka dengan berat hati terpaksa kami menolak permintaan beberapa teman kami tersebut say sorry to wak irwan sama bro Berly he he he.

Rumah Bodat

Tepat jam 08.30 kami bertolak meninggalkan rumah bodats dengan hanya bermodalkan sebuah tahu goreng dan segelas air putih yang sudah bersemayam dengan tenang dalam perut kami J, sengaja kami kosongkan tanki perut kami dengan hanya menyisakan sedikit sisa ruang di perut kami agar dapat mengexplore pepes he he he he. Menyusuri jalan raya kalimalang menuju ke arah Bekasi Timur ditemani dengan ramainya kendaraan, jalan yang sempit namun menampung begitu banyak kendaraan, pengendara yang tidak tertib menambah semrawut lalu lintas di Bekasi Timur ini. jalan yang relative cukup bagus, walaupun masih ada beberapa titik jalanan yang berlubang tidak menghalangi kami untuk memacu motor kami dengan kecepatan maksimal 60 s/d 80 km/jam. Lepas dari kepadatan Lalu lintas Bekasi Timur menuju ke arah Cibitung lalu lintas tidak begitu padat, hanya saja ketika masuk ke kota Cikarang sempat tersendat karena padatnya lalu lintas di terminal Cikarang, lepas dari Kota Cikarang kami mulai memasuki daerah kota Karawang. Di sebuah lampu merah bodats sempat melirik jam tangannya, rupanya masih jam 09.30. kami sempat berdiskusi apakah melewati kota Karawang atau melewati jalan lingkar luar kota Karawang, karena kami takut terlewat, maka kami memutuskan melewati kota Karawang terlebih dahulu.

Papan penunjuk jalan di bilangan Klari selepas Pintu Tol Karawang Timur membuat kami berhenti sebentar untuk bertanya kepada seorang bapak yang sedang asyik ditemani secangkir kopi panasnya. Saya lalu meminggirkan motor saya.. “Permisi pak, numpang Tanya, Kalo ke Bendungan walahar masih jauh pak..?”, si Bapak dengan sopannya menjawab “ tinggal dikit lagi, nanti setelah melewati jembatan ade berbelok ke kanan nanti ada petunjuk ke Bendungan walahar..!”.. “waduh terima kasih Pak..!” seru saya… “sama-sama dik”  sambil menepuk bahu saya… wedeh… tipikal orang yang tinggal di pinggiran, sopan, sangat membantu. Benar saja tidak beberapa lama kami melewati jembatan, saya menoleh ke kanan jalan dan melihat Supermarket “Alfamart” dan disisi kikanannya ada sebuah jalan. kami pun berbelok ke kanan, tapi bodat berteriak “ada si Arif tuh lex…!”, saya pun bertanya “Arif sapa..?” , “ itu arif khcc, pan rumahnya di Cibitung, dia mau ke walahar juga..!” kata bodats. Bodats pun menghampiri arif dan berbincang-bincang sebentar. Tak berapa lama bodats kembali dan kami pun melanjutkan kembali perjalanan, arif menyusul kemudian. Tak jauh dari pertigaan jalan Karawang tempat kami berbelok tadi…. Saya menoleh ke kiri jalan dan ada sebuah tulisan “Rest Area Km 57”, oalah rupanya ini tempat istirahat tol Jakarta Cikampek, benar saja jalan yang kami lalu melewati jembatan dan dibawahnya melintas tol Jakarta Cikampek… sampai di sebuah pertigaan dekat sebuah pabrik, kami berbelok ke kiri menyusuri sungai. Tiba ditempat tampak berdiri dengan kokoh sebuah bangunan berwarna kuning muda dengan pondasi batu kali dipinggir sungai.

Jalan di dalam Bendungan

bendungan walahar yang dibangun jaman Belanda ini masih kokoh berdiri, walaupun sudah mengalami beberapa kali renovasi. Jalan yang melintas di dalam bendungan hanya cukup dilalui satu kendaraan sehingga harus bergantian untuk melaluinya.

Tepat di ujung Jembatan target sudah terlihat dengan jelas.. plang papan nama bertuliskan Rumah makan Pepes Haji Dirja perut pun sontak berteriak……. “Horeeeeeee”. Karena jam masih menunjukkan jam 10.30 kayaknya belum waktunya nih untuk mengisi perut. Akhirnya kami memutuskan untuk foto session terlebih dahulu di Bendungan walahar dari gaya ala biker sampe gaya foto model pun dilakoni, walhasil kita menjadi tontonan ABG-ABG berbaju putih abu-abu yang sedang asyik masyuk nongkrong di bendungan. dari ABG yang kinyis-kinyis berpakaian abu-abu, sampe yang berpakaian menonjolkan belahan dada membikin pemandangan tambah indah, segar mata tapi belum segar perut, rupanya perut sudah memanggil – manggil untuk segera diisi. Deretan rumah saung di paling bawah rumah makan haji dirja ini cukup banyak, namun karena hari kerja hanya beberapa saja yang terisi, kami mengambil saung dekat dengan sebuah pohon rambutan yang cukup teduh. Kami pun memesan makanan yang semuanya pepes, tidak berapa lama datang beberapa pesanan dari kami, nasi timbel yang masih hangat dibungkus daun pisang, udang goreng yang dilapisi tepung, aneka pepes, mulai dari pepes ayam, pepes jambal, tahu dan pepes jamur.

siap-siap melahap pepes

Tanpa dikomando saya dan bodats mulai membuka satu persatu pepes tersebut, aroma kayu bakar tercium sangat kuat di pepes ini, walhasil kelenjar-kelenjar di mulut mengeluarkan lebih banyak enzim-enzim yang merangsang nafsu makan he he he he. Tidak terasa dari 5 buah nasi timbel yang tersedia hanya tersisa 1,  begitu pun dari pepesnya, tandas ludes, hanya tersisa 1 pepes ayam. Efek yang ditimbulkan pepes ini rupanya perlahan mulai menyerang, dari posisi duduk sampai akhirnya terlentang, tidak terasa mata mulai terpejam. Begitu menengok samping kanan saya, bodats rupanya sudah terlelap terlebih dahulu, sialan…!!! Akhirnya saya tidak jadi tertidur mengingat, banyak gadget kami yang bertebaran dimana-mana he he he he. Akhirnya mata saya hanya terpaku ke sebuah saung yang kebetulan tepat di depan saung kami. Sepasang muda-mudi tampak asyik menikmati makan sambil tertawa kecil, aaaaaahhhh teringat kembali masa pacaran dulu……. Disaung lain rekan kami yang lain bro arif…. Tampak sedang asyik juga menikmati pepes dengan istri dan anaknya.

Saung di RM H Dirja

Efek kekenyangan.....dan Mabok pepes

Tidak berapa lama bodat pun terbangun,”enak juga yah perut kenyang, tidur pun menjadi lelap ha ha ha saya berkata kepada bodat sambil tertawa.  Jam 14.00 kami pun bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta meninggalkan rekan kami arif dan keluarga yang masih betah berlama-lama di tempat itu.  Kami pun kembali menyusuri jalur kami berangkat tadi, sempat berhenti karena turun hujan yang cukup deras, kami sengaja berhenti sebentar menunggu hujan reda, namun karena hujan yang tidak berhenti juga, akhirnya kami memutuskan memakai rain coat dan kembali melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Jakarta… eh Bekasi deng….. tepat jam 16.00 kami tiba kembali di rumah bodats, saya pun beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Pondok Gede.

Catatan :

Posisi Rumah makan H. Dirja Via GPS.  S6o 23’05.68” – E107o 21’40.12”

Belokan dari Jl. Raya Karawang via GPS. S6o 21’49.09” – E107o 21’40.03”

Pepes per buah Rp. 4000 kecuali pepes Ayam Rp. 9.000

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s