Turing Merdeka – Ciwidey


Kawah Putih Ciwidey

Kawah Putih Ciwidey

Judulnya sih turing merdeka, tapi untuk apa lagi yah, kan Negara ini sudah merdeka. Namun ternyata dinamakan turing merdeka dikarenakan untuk memperingati HUT RI, sekaligus merdeka melepaskan penatnya rutinitas kerja yang cukup banyak menguras pikiran, sehingga diperlukan refreshing. Maka akhirnya diputuskan untuk melakukan perjalanan yah bahasa kerennya turing he he he. Setelah merencanakan sesuatunya, baik mulai dari rute yang akan ditempuh, penginapan, konsumsi dan yang lainnya. Turing yang berdurasi 2 hari 1 malam ini mengambil tujuan daerah Ciwidey suatu daerah di Bandung Selatan yang berhawa dingin dan mempunyai objek wisata antara lain kawah putih, situpatenggang, perkebunan teh walini dan pemandian air panas Cimanggu. Setelah semua persiapan bertepatan dengan tanggal 15 Agustus 2010 bertempat di SPBU Taman Mini Indonesia Indah sebagai Pit stop alias tempat ngumpul aka Tempat ngariung turing Merdeka Ciwidey pun dimulai. Tepat jam 08 pagi rombongan pun akhirnya diberangkatkan….. kayak rombongan piknik aja he he he.

Menyusuri jalan TMII menuju ke daerah cilangkap kendaraan dapat dipacu maksimal 60-70 Km jam. bertugas sebagai Road Captain bro Hendrawan “One”. Tidak berapa lama rombongan sudah tiba di jalan Transyogi, lalu lintas jalan transyogi sudah cukup ramai petugas turing berkomunikasi via Radio komunikasi untuk mengatur rombongan turing. Sempat berhenti di Fly over Cileungsi, disana sudah menunggu sobat kita bro Andry berlianto dengan City cruisernya, namun masih ada satu orang sobat yang belum tiba yaitu bro dadan, hamper 15 menitan menunggu akhirnya bro dadan tiba juga. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju kediaman satu orang sobat yang akan turut serta yaitu bro Gandhi, bapak 2 anak ini ternyata sudah siap mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk hidangan pagi hari untuk rombongan bebek kelaparan ini he he he. Ada sedikit keharuan ketika bro Gandhi ini berpamitan kepada istri dan anak-anaknya, dari ucapan dan perilaku bapak ini menunjukkan bahwa si bapak berambut perak ini (ubannya banyak bo…. He hehe ) sangat menyayangi keluarganya.. pelajaran yang cukup berharga buat kita para bujangan ini bro….!.. “Biker tetap sayang Keluarga”.

Setelah rombongan lengkap perjalanan dilanjutkan kembali, menyusuri rute via Jonggol,  Cariu, Cikalong wetan tembus di Ciranjang ternyata cukup membutuhkan konsentrasi mengingat jalanan yang bergelombang dan banyak yang berlubang, belum lagi ketika berpapasan dengan rombongan motor dari sebuah pabrik kosmetika Mu*s*ik* R*t* yang begitu panjang bagaikan ular. Komunikasi via rakom (Radio komunikasi) petugas pun ramai bagaimana caranya melewati rombongan ini, karena begitu panjangnya, akhirnya diambil keputusan yang menyalip rombongan ini satu persatu, saya dan bodats sebagai sweeper belakang mulai mengawal satu persatu rekan2 kita untuk melewati rombongan ini, sempat kasih jempol untuk sweeper rombongan ini yang berasal dari sebuah club motor di bilangan Jakarta timur ini. Sukses melewati rombongan ini, bukan berarti sudah selesai hambatan yang ada. Kali ini halangan datang dari RC (Road captain), tiba-tiba saja RC tanpa ada komunikasi apa-apa membelokan kendarannya menuju sebuah masjid yang ada pinggir jalan, dengan terburu-buru dia memarkir motornya, langsung saya contact via rakom…. Ne…… ne…. ada apaan koq berhenti…? Tanya saya, sorry man gue pengen Bo*er udah mules dari tadi jawab si one…! Sialan pikir gue. Gue pikir ada apaan kale, oalah ternyata RC gue mules pengen buang hajat. Rombongan yang baru tau kenapa si one ini belok ke masjid langsung tertawa riuh sambil meledek… he he he he. Setelah RC kita ini selesai buang hajat, perjalanan kembali dilanjutkan, memasuki kawasan perbukitan di daerah cariu ini, jalanan yang semula mulus berubah menjadi sangat rusak, sehingga rombongan harus berhati-hati melewati jalanan ini agar tidak terpeleset. Lepas dari perbukitan ini jalur relative mulus, sehingga tembus sampe di jalur utama Ciranjang, Cianjur. Sempat berhenti sebentar di ujung jembatan sungai Citarum untuk istirahat sambil berkonsolidasi lagi. Selesai istirahat perjalanan kembali dilanjutkan kembali melewati jalur rajamandala, terus sampai dengan padalarang. Sempat ada insiden kecil ketika salah satu anggota rombongan rorry, sempat keluar jalur ketika menyalip truk dari sisi kiri jalan, Alhamdulillah tidak ada hal-hal apapun. Memasuki kota padalarang jam sudah menunjukkan jam 11 an. Perjalanan pun kembali dilanjutkan, memasuki kota cimahi rombongan mengambil jalur via Batu jajar, sempat berhenti sebentar di kawasan di stadion si Jalak harupat, Soreang sekedar berfoto sebentar.

Memasuki kota soreang yang tertata cukup apik, jalur utamanya begitu bersih, kontras dengan jalanan di ibukota Jakarta, rombongan masih terus meluncur, jalanan yang mulai berliku dan tanjakan mulai mendominasi, jalanan cukup mulus walaupun ada beberapa yang berlubang dan sedikit Bumpy. Sempat beristirahat disebuah rumah makan untuk melepas lelah sejenak sambil mengisi perut yang mulai kelaparan. Akhirnya sekitar jam 2 sore sudah memasuki pintu gerbang Kawah putih. Rombongan pun menuju villa yang sebelumnya sudah dipesan terlebih dahulu, sekilas villa ini cukup apik, terbuat dari kayu sehingga terkesan eksotis dengan latar belakang hutan jati. Istirahat sebentar dan  menurunkan muatan yang cukup banyak. Selesai beristirahat rombongan pun mulai naik menuju kawasan kawah putih. Awalnya jalanan cukup mulus namun belum setengah perjalanan, jalanan mulai rusak dimana-mana, sehingga cukup menyulitkan ketika akan memasuki tanjakan yang cukup curam, saya melihat beberapa kendaraan mengalami kesulitan terutama kendaraan jenis sedan. Mestinya kerusakan-kerusakan seperti ini tidak perlu terjadi andai saja instansi terkait lebih “ngeh” dan cepat tanggap, maunya retribusi aja tanpa pernah memikirkan perbaikan-perbaikan semestinya. Tiba di kawasan kawah putih kita disuguhi pemandangan yang cukup eksotis. Rombongan memarkirkan kendaraan, selanjutnya menuruni tebing dengan tangga yang sudah diatur cukup rapih, hamparan air berwarna kehijauan dengan batu-batuan cukup memanjakan mata ditambah dengan mojang-mojang parahiyangan geulis he he he. Kawah putih ini merupakan bagian dari gunung Patuha yang masih aktif namun masih terlelap dalam tidur panjangnya. Setelah sesi narsis alias foto-foto Kita naik lagi ke atas. Pengaturan para pedagang cukup tertata dengan baik sehingga memudahkan kita untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah turun naik dari kawah putih. Setelah beristirahat sejenak akhirnya rombongan pun turun kembali menuju villa, didalam perjalanan rombongan sempat disambut dengan mulai turunya kabut, sehingga sempat deg-degan juga, melihat kabutnya perlahan mulai menebal menutupi jalanan, akhirnya rombongan tiba dengan selamat di villa. Villa yang tampak luar cukup menarik ternyata menipu dengan tidak profesionalnya pengelola, dimulai dengan tidak tersedianya air bersih untuk MCK (mandi cuci kakus), ditambah lagi dengan kebersihan kamar yang mulai dari kami datang tidak dibersihkan sama sekali. Hari yang mulai gelap ditambah lagi dengan kami yang memerlukan istirahat, membuat kami mengambil keputusan untuk mencari villa lain, akhirnya saya, one dan No-q memutuskan menuju ke daerah Cimanggu yang tidak  jauh dari kawah putih. Jalanan yang begitu gelap menghadang kami memulai perjalanan ke Cimanggu, lampu utama tidak begitu ampuh menerangi jalan, namun dengan lampu tembak yang terpasang di motor saya dan No-q sangat-sangat membantu kami menerangi jalanan, dengan saya di depan, one ditengah dan No-q dibelakang membuat jalanan yang tadinya gelap menjadi terang benderang hingga kami tiba di kawasan Cimanggu. Rupanya villa-villa di Cimanggu sudah penuh semua. Sampai akhirnya seorang bapak menawarkan kami untuk menginap di rumah penduduk yang memang disewakan, “Akhirnya…!” bertiga kami berseru, akhirnya kami meninjau rumah tersebut dan ternyata rumahnya cukup besar, berlantai dua. Kami pun mengontak rekan kami yang masih berada di Villa kawah putih untuk segera menyusul kami di Cimanggu. Kami pun bisa beristirahat dengan tenang, bisa mandi dengan air yang sedingin es tapi menyenggarkan kami, rupanya saya baru tahu bahwa Cimanggu ini merupakan kawasan pemandian air panas, tengah malam saya menuju ke kolam pemandian, namun ternyata saudara-saudara, ditengah malam dengan udara yang dingin menusuk tulang, kolam pemandian air panas ini menjadi magnet pemuda-pemudi Bandung dan sekitarnya. Saya cukup terkejut manakala melihat begitu penuhnya kolam. Alamak …. Gak jadi dah berendam air panas. Akhirnya saya kembali menuju villa untuk beristirahat. Menjelang dini hari udara kian dingin, saya yang tidur menggunakan sleeping bag hasil rampasan dari one akhirnya tetap mengigil kedinginan walhasil, saya dan one serta krisna tarik tarikan selimut karena begitu dinginnya udara di Cimanggu. Shubuh menjelang saya terbangun paling pagi, saya memutuskan mandi terlebih dahulu, mengingat jika menunggu pagi hari pasti akan berebutan mengingat  kamar mandi hanya ada satu. Masuk ke kamar mandi saya mencolek air yang berada di kolam, kontan saya berteriak….. “busyet dah dingin bener”. Akhirnya saya terpaksa mengeluarkan ilmu saya untuk menaklukan dinginnya air kolam. Ciduk diambil, langsung dah byar byur tanpa ada jeda, selanjutnya menyabunkan dengan cepat dan kembali menyiram dengan air, sama cepatnya pula dengan yang pertama. Akhirnya selesai juga ritual mandi yang dingin ini. Pagi menjelang ketika semua anggota rombongan, canda dan tawa serta saling ledek mulai terdengar diruang tamu kebanyakan sih karena begitu dinginnya udara. Sarapan pagi yang sudah tersedia secepat kilat disambar. Selesai mandi dan sarapan rombongan akhirnya menuju ke kolam pemandian air panas, kontras dengan malam hari, dipagi hari itu kolam pemandian air panas begitu lengang, sehingga dengan enaknya kami dapat berendam tanpa ada gangguan dari pengunjung lain.

Jam 9 kami mulai berkemas meninggalkan daerah Cimanggu, rencana awal kami menuju ke situ patenggang, namun sesampainya disana, ketika melihat dari kejauhan, ternyata danau situ patenggang sedang kering sehingga mengurangi keindahannya. Akhirnya kami memutuskan untuk balik ke Jakatta, rombongan sempat terpisah ketika kami mengisi bensin di kota soreang, saya, no-q dan bodat yang berada dipaling belakang tertinggal rombongan, kami berusaha menghubungi via Radio komunikasi namun ternyata sudah cukup jauh tertinggal, akhirnya dengan kecepatan tinggi kami berusaha mengejar rombongan namun sampai dengan pasar daerah Batu jajar tetap tidak terkejar, sehingga kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan sampai dengan daerah Ciranjang, kami menunggu di POM Bensin dengan asumsi bahwa rombongan utama pasti tertinggal di belakang kami, disana kami kontak via telp, benar saja rombongan ada dibelakang kami, rupanya mereka lewat jalur lain secara tidak sengaja ditambah dengan  beberapa trouble anggota rombongan. Akhirnya perjalanan dilanjutkan kembali via Jonggol, dan kami tiba dengan selamat di Jakarta sekitar ba’da isya.

Peserta

1.    Alex setia  aka Alexa

2.    Hendrawan aka One

3.    Henry parasian aka Bodats

4.    Andry berlianto aka Berly

5.    Khrisna

6.    Gandhi Kurniawan

7.    Dadan Hamdani

8.    Deeje

9.    Anto

10. No-q

11. Rory

12. Dimas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s