Kenapa saya mengambil judul diatas…? Yup karena keprihatinan saya melihat kondisi Museum Nasional. Berawal dari kunjungan saya ke Museum Nasional, dengan niat ingin melihat koleksi dan uniknya Gedung Museum Nasional yang merupakan peninggalan jaman Belanda. Sebelum berkunjung ke museum Nasional saya sempatkan untuk menghubungi Museum nasional via telepon, dan sobat saya menghubungi via email yang alamatnya tercantum dalam website museum Nasional hanya untuk menanyakan apakah ada guide dan berapa tarifnya. Hal pertama yang menjengkelkan adalah bahwa no telepon yang ada di website nyambung tapi tidak pernah ada yang angkat, lalu teman saya pun yang menghubungi via email tidak ada balasan sama sekali. Akhirnya tanya sana tanya sini akhirnya bisa menghubungi Museum nasional, ternyata no telepon dan alamat email di website sudah tidak valid lagi, menurut pihak museum nasional hal ini sudah diberitahukan ke pihak Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, namun sampai dengan saat ini tidak pernah ada realisasinya. Salah satu contoh kerja birokrasi yang sangat amat lambat. Hal yang aneh lagi saat saya menanyakan perihal pemesanan jasa guide, jawabannya adalah bisa langsung ditempat, bapak tinggal datang saja… heh…? saya sempat terkaget-kaget menerima jawaban tersebut, saya bahkan sampai mengulang lagi pertanyaan tersebut, namun rupanya jawabannya sama, soal tarif pun mereka tidak ada tarif yang jelas… ironis…….. Lanjut membaca
Arsip Kategori: Catatan Perjalanan
Beberapa tulisan mengenai Perjalanan saya ke beberapa tempat yang mungkin layak anda kunjungi
Video Tour de Galunggung
Sebenarnya udah lama pengen Upload video perjalanan ke Gunung Galunggung ceritanya kayak disini, tapi baru sempet sekarang, thanks to bodat yang sudah ngedit videonya dan upload di yutub….
Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga
perjalanan yang cukup menarik karena dari awal perjalanan sampai dengan akhir perjalanan selalu basah……
Salam
AX
Penginapan di Ujung Genteng – Sukabumi
Bagi para wisatawan yang doyan jalan terutama di daerah Ujung genteng, saya lampirkan penginapan yang bisa di sewa untuk menginap sekaligus bisa memesan makan di sana. beberapa losmen menyediakan tempat yang menurut saya cukup representative namun tidak terlalu mewah. selain alamat disini anda juga bisa menyewa rumah penduduk jika penginapan tersebut sudah penuh. Lanjut membaca
Catatan Jejak-jejak Kartini di Jepara
Memperingati Hari Kartini, tidak bisa terlepas dari kota Jepara, tempat pelopor feminisme Indonesia ini lahir. Buat saya, `suasana Kartini’ juga menjadi penanda wilayah Jawa Tengah yang jarang kita dengar, yakni pesisir Utara Jateng ke arah Timur. Berarti dari Semarang sampai ke perbatasan Jawa Timur sebelum Tuban.
Sebenarnya, Raden Adjeng Kartini tidak dilahirkan di kota Jepara, melainkan di sebuah kota kecil bernama Mayong. Kota ini termasuk suburb dari Jepara. Uniknya, saya menemukan nama kota ini justru di resort merah Losari Coffee Plantation. Resort ini terletak tidak jauh dari Eva Coffee House, tempat singgah favorit bagi yang sedang berkendara dari Semarang ke Solo atau sebaliknya. Eva Coffee House punya andalan masakan yang konon tinggal satu-satunya di Indonesia: gudeg manggar, atau gudeg dari bunga kelapa. Tempat ini juga terkenal dengan sirop kopinya, juga barang yang sudah langka di Indonesia.
Resort Losari Coffee Plantation boleh diacungi jempol karena ketekunannya mempertahankan `aroma’ perkebunan kopi tempo doeloe di Jawa Tengah (walaupun mahalnya gak ketulungan).
Disana, di jalan pintu masuknya berjajar pohon Kapok (kapuk) Jawa, yang masing-masing diberi nomor dan dirawat apik serta dimonitor perkembangannya. Di kebun-kebunnya ada pepohonan Jawa kuno seperti kecombrang dengan bunganya yang merah muda merona (wadoh, udah merah, muda, merona lagi! Hehe), serta di dalamnya ada koleksi pohon-pohon bamboo kuno seperti bamboo betung dan jenis bamboo lainnya yang diameter batangnya mencapai paha orang dewasa.
Yang unik disini dan berhubungan dengan Kartini adalah lobby atau reception-nya. Kalau resort-resort lainnya seperti Amanjiwo di dekat Borobudur menyajikan ruang penerima (reception area) yang serba megah dan mewah, di Losari ini justru ruang penerimanya sangat kecil, sempit, dengan dinding kayu bersusun mirip dinding kayu rumah-rumah di film koboi. Interiornya pun sederhana, dengan kayu-kayu yang tebal namun sudah lapuk karena usia. Di samping ini ada tulisan besar `Mayong’ beserta angka ketinggian kota ini.
Rupanya, gedung stasiun ini dulunya adalah stasiun kereta api kota Mayong yang diangkut semuanya kesini. Filosofinya adalah, seperti di cerita Harry Potter, stasiun kereta api jaman dulu adalah gerbang menuju tempat baru. Sebelum masuk ke sebuah tempat baru, pasti harus lewat stasiun dulu. Inilah harapan resainer Losari, agar `Mayong Reception’ ini menjadi gerbang ke dunia Jawa kuno di dalam kawasan resor ini. Boleh jadi, stasiun ini adalah saksi bisu RA Kartini, lantainya adalah lantai yang sama yang pernah dilangkahinya, atau dindingnya pernah disandarinya ketika ia menunggu ayahnya pulang.
Kalau ke Jepara, daerah yang tidak boleh dilewatkan adalah Tahunan. Daerah ini kira-kira 45 menit keluar kota, dan merupakan pusat industry mebel kayu di Jepara. Saya dua kali kesini, pertama dengan Novel cs dan kedua dengan keluarga. Wah mantab tenan belanja mebel disini. Uang yang kalau di Jakarta dapetnya cuma pik pik Olympic, disini bisa dapat kayu jati (entah muda atau apa, at least lebih baik dari triplek hehe). Ada lemari, ada kursi, dua kali saya kesana, dua-dua kalinya saya belanja, yang pertama satu set bangku panjang dan yang kedua satu set meja kopi. Dikirim ke Jakarta? Gak masalah! Kalau gak salah ada biaya dibawah Rp 100.000,- per buah untuk pengirimannya. Cara membungkusnya khas, dengan kertas kardus corrugated dan diikat raffia hitam, tanpa kotak. Sampainya lumayan cepat, bagus, dan murah pula!
Nah, `jejak Kartini’ di Tahunan bisa kita lihat di sebuah desain meja kopi yang disebut `kursi kartini’. Saya sendiri nggak tahu kenapa namanya `kursi kartini’. Bentuknya sebenarnya mirip desain meja kopi kuno jaman Belanda, dimana sandarannya melengkung, jadi satu dengan sandaran tangan. Tingginya hanya setengah punggung kalau diduduki, dengan kaki yang pendek dan dasar yang lebar. Secara umum bentuknya seperti sudut bersisi tiga dari sebuah kubus. Biasanya dijual sepasang dengan sebuah meja kecil, kira-kira setinggi 50 cm. Konon, desain ini diambil dari desain meja kopi milik Kartini yang ada di Museum Kartini di Jepara. Sayang, saya belum pernah mampir ke museum ini. Dan, Tahunan bukan hanya terkenal dengan mebelnya – tapi juga terkenal duriannya! Konon, di daerah pesisir yang panas ini durian tumbuh subur dan dulu pernah menjadi primadona kawasan ini. Duren paling banyak ditemukan di Pasar Tahunan yang ada di sebelah kanan jalan menuju pusat mebel. Siapa tahu, dulu Kartini pernah duduk di dingklik di pasar ini, sambil nyelamotin biji durian Jepara!
Yang terakhir, selain patung Kartini di pusat kota Jepara, adalah Pantai Kartini. Kalau yang pernah ke Karimunjawa lewat Jepara, pasti pernah melihat pantai ini, yang terletak persis di tepi pelabuhan ferry. Pantainya sebenarnya biasa banget, ada sebuah taman bermain yang mirip penampilannya dengan Taman Ade Irma Suryani Nasution di Bandung (i.e.cukup memprihatinkan, hehe). Seingat saya, ada sebuah patung penyu besar di sisi pantai, yang dulunya merupakan semacam akuarium tapi sekarang nampak kurang terawat. Ada semacam saung-saung untuk nongkrong dan duduk-duduk, menghadap ke Laut Jawa yang luas di depan sana.
Boleh jadi, disinilah Kartini dulu mendapat ide mengenai tulisan Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Pada jaman Kartini, kota Jepara pastilah belum terang benderang seperti sekarang. Jadi, konsep tentang berubahnya gelap menjadi terang, paling bisa dimengerti adalah apabila kita berdiri di pantai dan memandang langit yang berubah dari gelap, pelan-pelan membiru dengan cahaya mentari di cakrawala, sampai kehangatan sang Surya terasa bukan saja menbawa terang, tapi juga kehangatan di dalam jiwa dan raga kita. Boleh jadi, disinilah Kartini berdiri dan menikmati suasana pantai, sebelum menuliskan surat-surat buah pemikirannya kepada rekan-rekannya di Belanda. Dari buah pikiran inilah, pandangan orang Barat terhadap perempuan Jawa yang tadinya dianggap `manut saja’, mulai berubah, terkesima oleh kecerdasan putri Indonesia ini.
Selamat Hari Kartini, dan jangan lupa kostum2 pakaian daerah anak2 Anda dipulangin tepat waktu, hehehe
Cheers,
Harry “Harnaz” Nazarudin
(moderator Milis Jalansutra)
Kisah Keluarga Sul Fur (Kimiasutra Sulfit)
Baru pulang jalan-jalan di Hangzhou, sebelum tidur iseng-iseng nulis dulu, soalnya denger-denger ada nama molekul disebut-sebut, hehe.
Ketika saya search sedikit di internet, saya kaget juga, bahwa istilah sulfit saja macam-macam sekali pemahamannya. Banyak juga salah pemahamannya, malah ada juga yang salah ketik (beda i dan a saja, seperti sulfit dan sulfat, dalam kimia bedanya bumi langit!). Saya coba sedikit untuk meluruskan istilah ini.
Nama yang depannya ‘sul’ adalah turunan dari S8, atau keluarga Sul Fur, atau belerang bahasa Indonesianya. Disebut S8 karena dalam bentuk alamiah yang paling stabil untuk belerang adalah kalau ada 8 atom belerang bergandengan tangan membentuk satu lingkaran, sehingga namanya S8. Warnanya kuning, contohnya adalah bongkahan kristal belerang yang terdapat di Gunung Merapi di Jawa Tengah, atau kristal-kristal mengkilap yang ada di lubang-lubang Kawah Domas di Tangkuban Parahu.
Ikatan S8 dari alam ini, bisa terpecah jika terjadi reaksi kimia. Kalau ini terjadi, maka atom S akan mencari ‘pasangan hidup’ sampai hidupnya stabil lagi, nggak pindah kanan-kiri. ‘Pasangan hidup’ ini tergantung pada yang namanya bilangan oksidasi atau biloks. Masing-masing atom punya nilai sendiri yang kalau dijumlah hasilnya harus netral atau nol. Misalnya, H nilainya +1, dan O nilainya -2, makanya air H2O, berarti (2 x +1) + (1 x -2) = 0. Jadi, begitu lepas, S akan punya biloks sendiri, yang akan menentukan dengan siapa dia akan berjodoh.
Nah, dari keluarga Sul Fur S8 bisa terpecah menjadi 4 Sul bersaudara: nilai biloksnya +2, +4, +6, dan +8. Paling kurang ajar tentu saja si bungsu, +2, namanya Sul Fida, yang bereaksi dengan H membentuk H2S yang bau kentut. Si bungsu ini bisa jadi juga keturunan tionghoa, semarga sama saya, kalau bentuknya H2S2O3, namanya Tio Sul Fat hehe (beneran lho, bukan adiknya Chow Yun Fat). Kakak yang paling sulung, +8, kayaknya orang Swedia, namanya Per Sulfat. Yang paling terkenal adalah kakak nomor dua, +6, namanya Sul Fat – terkenal karena agresif dan asam yang kuat. Ada lagi namanya Zulkifli, itu tetangga saya di Cikarang, gak ada hubungannya sama kimia, hehehe.
Yang sedang kita omongin disini adalah kakaknya Sulfida, yang namanya Sul Fit. Biloksnya +4. Bentuknya bisa H2SO3, atau SO2 kalau belum tercampur air (coba dihitung, dua-duanya biloksnya +4, kan?). Mas Sul Fit ini kurang percaya diri, tidak stabil, dan uring-uringan melulu. Ia selalu ingin menjadi seperti kakaknya, Sulfat si +6, karena kan keren getoloch, asam sulfat, hmmm kesannya garang dan gagah. Jadi, setiap ada kesempatan, ia selalu melepaskan 2 elektron bermuatan negatif, supaya dia bisa naik dari +4 jadi +6. Kalau dia naik, berarti ada yang turun kan? Nah, yang naik namanya oksidasi, sementara yang turun namanya reduksi. Jadi, Sul Fit disebut reduktor, atau membuat orang lain ter-reduksi, supaya dia sendiri bisa ter-oksidasi menjadi seperti kakaknya Mas Sulfat.
Baru sekarang kita masuk ke efek dari si Sul Fit ini. Karena Sulfit pengennya nambah +2 melulu, dan melemparkan 2 elektron ke atom lain, maka dia butuh partner yang sama gatelnya, pengennya nerima elektron melulu. Nah, partner ini kebetulan ada banyak di alam, molekul seksi nan berbahaya namanya Oksigen. Oksigen ini seksi banget, jadi molekul lain suka tergoda dan bergabung dengan Oksigen tanpa melepaskan pasangan yang sudah ada, menjadi ‘teroksidasi’ namanya, seperti menyimpan Oksigen ini sebagai ‘simpanan’. Dunia kimia sama dengan dunia nyata, punya simpenan mula-mula enak, lama-lama ngerongrong, bahkan bisa bikin bangkrut, hehe. Inilah yang menyebabkan kulit kita keriput kalau sudah tua (banyak terkena oksigen), buah apel jadi coklat, dan bahan makanan menjadi busuk.
Nah, disinilah peran si Mas Sul Fit ini tadi. Dia berperan menangkap Oksigen supaya tidak terjadi oksidasi, alias sebagai ‘anti-oksidan’. Dalam wine, misalnya, dia berperan menghambat pertumbuhan bakteri karena kalau ada Oksigen, langsung ditanggap sama Mas Sul Fit sehingga bakteri tidak bisa bernafas. Mas Sul Fit juga gesit nikah siri sama Oksigen sampai-sampai Bang Ragi (yeast) gak kebagian stok Oksigen, jadi bujangan tua, stress, lalu mati sendiri, hehe. Begitu pula semua efek sulfit baik dalam sosis maupun wine, umumnya adalah karena Mas Sul Fit gesit menggaet oksigen.
Lalu kenapa Mas Sul Fit ini bisa membuat gatal-gatal? Memang, seperti kata Cap Gatot dan Yohan, kadang-kadang tubuh kita tiba-tiba memproduksi histamin sebagai ‘alarm’ karena sentimen terhadap salah satu keluarga molekul. Badan saya contohnya, sentimen sama keluarga Nitro Koesoemo yang namanya NO2 (+4), adiknya Nitrat (+5) sang sulung. Kalau saya makan aspirin, yang meningkatkan kadar NO2 dalam tubuh, langsung muka dan tenggorokan saya bengkak. Mas Sul Fit ini juga bisa mengakibatkan efek yang sama pada badan tertentu, namun saya rasa belum ada penjelasan ilmiah mengenai alasannya.
Demikian kisah keluarga Sul Fur…
Cheers,
Harry “Harnaz” Nazarudin
(moderator Milis Jalansutra)
