SEJARAH CINA BENTENG DI KOTA TANGERANG


Rumah Orang Cina Benteng

Rumah Orang Cina Benteng

Cina Benteng tak lain tak bukan sama artinya dengan “Tionghoa Tangerang”. Cina = Tionghoa; Benteng = Tangerang. Istilah Benteng sebagai padanan KOTA Tangerang berawal dari didirikannya oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sebuah benteng (fort) pada 1685 di sebelah timur sungai Cisadane, setelah terjadi perjanjian damai antara Banten-VOC pada 1682. Tujuan didirikannya benteng yang kemudian oleh penduduk setempat lebih dikenal sebagai Benteng Makassar, sebab para serdadu penjaganya kebanyakan orang Bone (yang dianggap sama dengan Makassar oleh penduduk setempat), anak buah Aru Palakka, untuk mencegah direbutnya kembali Tangerang dari tangan VOC. Nama Tangerang sendiri berasal dari kata Sunda Tanggeran, artinya `segala sesuatu yang didirikan dengan kokoh’ (naon-naon anu ditangtungkeun kalawan ajeg). Benteng Makassar sekarang sudah tidak ada, di tempatnya didirikan Plaza Tangerang.

Pemukiman Tionghoa tertua di (seputar) Benteng (Makassar) terletak di Pasar Lama, yakni di tempat dimana terletak Kelenteng Boen Tek Bio dan Museum Pusaka Benteng sekarang. Di kawasan ini masih banyak bangunan Tionghoa tua, yang berasal dari abad 17-19. Orang Tionghoa yang berasal dari kawasan Benteng ini dengan bangga lalu menyebut diri Cina Benteng. Selain di Pasar Lama, berangsur-angsur pemukiman Tionghoa juga dibuka di Pasar Baru (circa 1820) dan terakhir Pasar Anyar. Mereka inilah yang dapat dikatakan orang Cina Benteng asli.

Dalam perjanjian damai 1682 itu ditetapkan wilayah yang terletak di antara kota Batavia hingga sebelah timur Cisadane merupakan milik VOC. Untuk mengolah kawasan yang masih berupa hutan belukar itu, VOC memberikan hak milik kepada orang-orang yang pertama-tama membuka lahan. Yang datang membuka lahan kebanyakan orang Tionghoa yang mempunyai ketrampilan mengolah tanah. Sebagian dijadikan kebun sayur-mayur, namun sebagian besar dijadikan perkebunan tebu untuk dijadikan gula yang memasok kebutuhan gula di pasaran Eropa. Orang Tionghoa inilah yang merupakan penduduk pertama lahan yang masih kosong tersebut. Setelah orang Tionghoa, orang orang yang berasal daerah lain di Nusantara turut meramaikan daerah ini dengan kehadirannya. Laki-laki Tionghoa totok yang datang ke Nusantara kemudian menikah dengan orang-orang dari berbagai daerah itu, sehingga lahirlah Tionghoa Peranakan. Orang Tionghoa dari kawasan Ommelanden (luar tembok Batavia) ini SEJATINYA TIDAK disebut Cina Benteng, namun Cina Ilir (Utara) bagi penduduk di uatara Tangerang (termasuk Kampung Melayu, Tanjung Burung, Mauk dll) dan Cina Udik (Selatan) bagi penduduk Tionghoa di selatan Tangerang (termasuk Curug, Legok, Panongan dll). Fyi, dalam bahasa Melayu, bahasa yang berlaku di kawasan ini, Ilir artinya Utara, Udik = Selatan, Kulon = Barat, Wetan = Timur. Mereka yang tinggal dari Ilir atau Udik mengatakan “hendak ke Benteng” bila ingin ke Tangerang.

Sejak berabad lalu orang Tionghoa dan non-Tionghoa di Tangerang telah hidup berdampingan secara harmonis di tanah Tangerang, tak jarang di mereka ada hubungan kekerabatan. Frasa `orang Cina dipakai untuk menyebut orang Tionghoa dan orang Kampung untuk menyebut non-Tionghoa. Jadi, jangan heran mendengar ungkapan “bapanya orang Cina, ema (ibu)-nya orang Kampung”. Ungkapan ini sering terlontar begitu saja tanpa prasangka apa pun. Jadi, frasa Cina Benteng sebaiknya TIDAK usah diganti dengan China Benteng!!! Tidak ada frasa China Benteng, itu buatan orang di LUAR kalangan mereka, yang mengharamkan kata Cina, mereka sendiri TIDAK.

Pada perkembangan selanjutnya, istilah Cina Benteng tidak diterapkan kepada orang Cina yang berasal dari kawasan seputar Benteng (Makassar): Pasar Lama, Pasar Baru dan Pasar Anyar di KOTA Tangerang saja, tetapi juga meliuputi kawasan Benteng, Ilir dan Udik tadi, tepatnya sekabupaten Tangerang, dan lebih diterapkan kepada enclave kebudayaan, yang wilayahnya bisa sampai ke Jembatan Dua, Jembatan Tiga, Jelambar, Kampung Bebek, Jembatan Gambang, Jembatan Item, Kampung Janis, Jembatan Lima di Jakarta Barat. Di kawasan-kawasan tersebut banyak ditemui warga Cina Benteng, dengan budayanya yang unik.

Budaya Cina Benteng (Tionghoa Tangerang’)sangat unik: berasal dari budaya yang dibawa imigran Tionghoa dari daerah provinsi Fujian (Hokkian) (mayoritas) dan Guangdong (minoritas), yang mula pertama datang pada periode Dinasti Qing (1644-1911), dinasti terakhir di China, dan telah mengalami akulturasi selama berabad-abad dengan budaya lokal Sunda, Betawi, Jawa dan juga Eropa.

Budaya unik seperti budaya Cina Benteng ini takkan kita temui di bagian mana pun dari dunia ini, termasuk di China sendiri, sebab China setidaknya telah mengalami dua kali revolusi besar: Rovolusi Xin Hai 1911 yang menghancurkan budaya dari periode Dinasti Qing, dan Revolusi Budaya 1966-1976, yang menghancurkan semua produk budaya yang dianggap feodal, kapitalis dsb.

Masyarakat Cina Benteng tidak terpengaruh oleh segala peristiwa politik yang terjadi di China. Akibatnya, bila turis dari China masa kini ingin melihat budaya China yang sudah punah dan tidak ditemui lagi di negaranya sendiri, mereka harus mencarinya di luar China, antara lain ke daerah Tangerang, termasuk kawasan Benteng Ilir (Tangerang Utara) dan Benteng Udik (Tangerang Selatan).

NB:
Selain dalam nama Cina Benteng, nama Benteng bagi KOTA Tangerang juga kita temui dalam nama BENTENG Ekspres, yakni nama kereta ekspres Jakarta Kota-Tangerang.

Catatan :

diambil dari Postingan Bapak David Kwa (dkhkwa@yahoo.com)di milis Jalansutra, beliau seorang ahli dalam sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia.

About these ads

2 responses to “SEJARAH CINA BENTENG DI KOTA TANGERANG

    • Petunjuk menuju Museum Benteng Heritage :

      1. Tol Tomang – Tangerang : exit di KM 18.

      2. Begitu exit akan ketemu dua kali percabangan, selalu pilih : Tangerang
      yaitu yang arahnya lurus (ambil jalur sisi kanan jalan terus).

      3. Jalan akan bergabung dengan Boulevard yang ditengahnya ada :
      Pagar Besi warna Hijau tinggi.
      Disini Tripmeter di dashboard di Nol – kan.

      4. Ikuti terus jalan satu arah itu pada lajur paling kanan terus,
      dan lihat tripmeter :

      Km 2,6 : lewat kolong Fly-Over, lurus terus.
      Km 3,6 : ketemu traffic light, tetap lurus dan kini ambil jalur paling kiri.

      5. Tidak jauh melewati traffic light jalan bercabang dua, ambil yang kiri,
      ( untuk mudahnya sejak traffic light telusuri trotoar kiri jalan).

      6. Kini dikiri jalan ada sungai Cisadane, telusuri jalan itu (hati2 dua arah),
      sejauh sekitar 1 kilometer – sampai mentok habis ada pertigaan,
      belok kekanan (jangan kekiri yang masuk jembatan).

      7. Begitu belok kekanan, sekitar 30 meter kekanan lagi (untuk mudahnya-
      telusuri saja sepanjang trotoar kanan jalan).

      8. Kini dikanan ada Mesjid Besar – Kantor BPKP – nah perhatikan didepan
      ditengah jalan ada Jam Kota, parkir dikanan jalan dekat2 Jam Kota itu.

      9. Turun dari mobil, berjalan kaki melanjutkan menelusuri tepian trotoar
      karena akan berlanjut memasuki Jalan Cilame dimana lokasi Museum
      Benteng Heritage.

      10. Jalan Cilame itu membelah Pasar Lama, sekitar 100 meter Museum
      ada dikanan jalan.
      Note : Museum Senin tutup.
      Buka mulai jam 13, Sabtu Minggu jam 11,
      tilpon dulu 021-44544529

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s